
MANADO – Memimpin sebuah daerah apalagi masyarakat kota idealnya tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Pembangunan semestinya menyentuh seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Tendensi mengembangkan konsentrasi pembangunan di sektor fisik hanya memberikan profit jumbo bagi penguasa dan orang-orangnya.
Demikian penuturan aktivis kota Jefrey Sorongan dalam sebuah diskusi kaum muda mengenai arah pembangunan Kota Manado. Dia menyentil program, visi dan misi empat kandidat walikota Manado.
Menurut Jeffrey Sorongan, dari empat pasangan calon walikota, hanya program Imba – Ivan, Paslon nomor urut 3 yang berkeadilan sosial. Itu karena 10 program Imba – Ivan menyentuh langsung hajat hidup masyarakat kota. Bukan program yang kemudian membuat mata penguasa dan tim-tim sukses membelalak ke proyek fisik yang memberi komisi besar ke orang-orang tertentu.
“Setelah dicermati benar-benar, program seperti BPJS, penurunan PBB di level terendah, dana duka, dana lansia, dana pendidikan, dan yang lain-lain, itu adalah perwujudan Sila Pancasila khususnya keadilan sosial. Rakyat kota Manado berhak menikmati instrumen layanan pemerintah hari hasil pajak yang dia bayar ke negara,” jelas Sorongan.
Dia menyatakan , dari hampir 500 miliar pendapatan asli daerah (PAD), wajar Imba-Ivan mendesain program yang menyentuh langsung kebutuhan pokok masyarakat. Bukan hajat hidup tim sukses, pengurus partai dan bahkan hajat hidup penguasa itu sendiri.
“Kalau saya melihat ada gelagat calon yang sama masih mau mengincar komisi proyek di periode berikut. Keenakan dapat fee dari kontraktor hingga 22,5 perseni dari pagu anggaran proyek , jadi kampanye lebih banyak kampanye kesuksesan proyek fisik. Padahal dimensi hidup masyakarat ada yang namanya pelayanan kesehatan, makan minum rumah tangga, kebutuhan hidup harian dan bulanan. Dan itu bisa tercover dengan PAD. Buktinya zaman GSVL bisa koq. Ingat kita hidup manusia bukan hanya jalan jalan di atas trotoar,” jelas Sorongan.
Karena itu wajar jika ribuan warga ramai-ramai mendukung Imba-Ivan lantaran pasangan tua-muda ini tampak konsisten dengan program yang sesungguhnya sudah pernah jalan di era IMBA, lalu disempurnakan di era GV Vicky Lumentut.
“Karena dihapus era AARS masyarakat merasa teraniaya dan Imba-Ivan datang untuk memulihkan semuanya,” tutur Sorongan. (kim)







