Puisi, Doa Untuk Kedua Putraku Di Talaud

Nak, Jangan Jadi Wartawan — Kecuali Kau Siap Mati Untuk Kebenaran

Untuk Trimedya dan Jaya,
yang tidur di ujung utara negeri,
di Kepulauan Talaud yang jauh dari peluk ayah…

Dengarkan wasiat ayah malam ini.

Nak, ayah wartawan.
Kerjanya terlalu banyak untuk satu nyawa.
Pagi menulis Negara,
siang menulis ketimpangan,
malam menulis tentang konsesi disabilitas
yang bahkan Negara lupa menulisnya.

Ayah menulis tentang semua orang,
kecuali tentang kita.

Kemarin ayah dihina,
karena menulis borok pejabat daerah kita.
Kemarin ayah diancam,
karena menulis dugaan perampokan BBM bersubsidi
yang katanya menyeret nama keluarga penguasa.

Mereka hubungi Ayah, Nak.
Desak ayah hapus berita yang ditulis
dengan fakta, data, dan air mata orang kecil.

Hapus, atau penjara.
Hapus, atau denda.
Hapus, atau dihabisi,

Tangan ayah gemetar membaca somasi.
Keringat dingin mengucur di pelipis
seperti butiran darah berkristal.

Sederet nama menandatangani tuntutan itu,
hulubalang-hulubalang yang hafal betul
bagaimana hukum bisa dijadikan topeng.

Istri Bupati yang berkuasa,
atas nama korporasi raksasa,
menyerahkan kuasa untuk menyeret
ayahmu yang hanya punya pena.

Dan di sinilah ayah berdiri, Nak.
Ayah bukan lagi diuji melawan orang kaya yang berkuasa,
tapi kini berhadapan dengan para algojo bertopeng hukum,
Kali ini Ayah terpojok di persimpangan malapetaka.

Lalu ayah ingat kalian.
Trimedya — tiga media, tiga keberanian.
Jaya — kemenangan atas rasa takut.
Nama kalian menyalakan kembali nyali ayah.

Maka dengarkan, Nak, kalimat yang akan ayah pegang
sampai Tuhan memanggil:

Mereka punya uang, tapi Ayah punya keberanian.
Mereka punya kuasa, tapi Ayah punya kebenaran.
Mereka punya hulubalang, tapi Ayah punya Tuhan maha penolong.

Kalau akhirnya ayah dipenjara, ayah tidak kalah.
Karena bagi Ayah…

Penjara sudah lama menjadi rumah bagi orang kecil
yang berani menyuarakan kebenaran namun tidak mampu membeli keadilan,
Ayah tidak takut penjara.
Ayah tidak takut denda.
Ayah tidak takut dihabisi.

Yang ayah takuti hanya satu:
ketika ibumu berbisik,
malam tadi kalian tidur dengan perut kosong.

Ketika ibumu bilang,
kalian memanggil nama ayah saat demam tinggi,
sementara ayah masih di Manado,
mengejar berita yang tak memberi gaji,
tapi memberi harga diri.

Di detik itu hati ayah remuk.
Tak berbentuk.

Maafkan ayah, yang mengajarkan sabar,
sementara kalian yang lebih dulu sabar:
sabar menahan lapar,
sabar menahan rindu,
sabar menahan sakit tanpa ayah.

Orang mengenal Ayah kini sebagai Pimpinan Redaksi.

Tapi Ayah sedikitpun tak perna bangga…

Bagaimana Ayah bisa Bangga,

Ayah menulis pendidikan bermutu,
sementara kalian menunggak biaya sekolah.

Ayah menulis kesehatan gratis,
sementara Ayah bingung mencari obat saat kalian demam.

Ayah menulis makanan bergizi program Presiden,
sementara haus dan lapar masih setia menemani kalian.

Ayah wartawan yang gagal membahagiakan darah dagingnya,
tapi Ayah wartawan yang selalu menjaga marwah profesinya.

Maka ini wasiat terakhir ayah malam ini:

Nak, jangan jadi wartawan,
kecuali kau siap seperti ayah:
pulang hanya membawa luka dan kliping koran,
tidur dengan ancaman, bangun dengan somasi,
tapi tetap menulis meski tangan gemetar.

Jika kau mau jadi wartawan, Nak,
jadilah wartawan yang mereka tak bisa beli.
Jika kau mau jadi wartawan,
jadilah wartawan yang mereka tak bisa bungkam.

Kalau tidak,
jadilah nelayan yang pulang membawa ikan.
Jadilah guru yang pulang membawa cerita.
Jadilah petani yang pulang membawa hasil.

Jangan seperti ayah,
jika kau hanya ingin hidup nyaman.

Tapi jika kelak kalian menemukan tulisan-tulisan ayah
berserakan di antara debu,

Mengertilah…
Ayah tidak meninggalkan harta.
Ayah meninggalkan keberanian.
Ayah tidak meninggalkan kuasa.
Ayah meninggalkan kebenaran.

Mereka punya segalanya untuk membungkam ayah,
tapi ayah masih punya satu yang tak bisa mereka rampas:
keyakinan bahwa pertolongan Tuhan
tidak pernah terlambat menyeberangi laut Talaud
untuk sampai pada dua putraku.

Tidurlah, Trimedya.
Tidurlah, Jaya.

Laut memisahkan kita malam ini,
tapi doa ayah,
dan tulisan ayah yang tak pernah ayah hapus itu,
akan tetap menyeberang untuk kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *