EDITORIAL, SEJADAH TUA DI TANAH YANG DIHIBAHKAN UNTUK SALIB

EDITORIAL, LAMBETURAH24.COM– Di pelosok Desa Arakan, Minahasa Selatan, ada seorang lelaki tua yang mengajarkan Indonesia cara beriman.

Namanya, Ade Robo Lahma, Umurnya 71 Tahun, 

Tangannya kasar karena cangkul, punggungnya membungkuk karena bertahun-tahun menatap tanah. Ia bukan pejabat. Ia bukan orang kaya. Ia hanya petani Muslim, yang hidup di tengah lautan saudara-saudaranya yang Kristiani.

Dan di tanah Minahasa yang mayoritas salib itulah, ia justru memeluk imannya dengan cara yang paling indah.

Tanah seluas 884 meter persegi. Itulah yang ia punya. Bukan luas jika diukur dengan nafsu dunia, tapi terlalu luas jika diukur dengan cinta.

Tanah itu ia jaga sejak 1938. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Tanah itu adalah warisan bapaknya, amanah ibunya, tempat ia pertama kali belajar mengeja nama Allah, tempat ia mengubur ari-ari anaknya, tempat ia menanti hujan dan memanen harapan.

Jika ia jual, mungkin cukup untuk biaya berobat di usia tuanya. Jika ia simpan, cukup untuk warisan cucu-cucunya.

Tapi Ade Robo memilih untuk menghibahkannya. Untuk Gereja. Untuk GMIM Efrata Rap-Rap.

Tanpa pamer. Tanpa meminta imbalan. Tanpa satu kamera pun ia undang.

Ketika Wakil Bupati Minahasa Selatan menyaksikan penyerahan itu, ia tidak hanya menyaksikan serah terima lahan.

Ia menyaksikan seorang anak yang sedang menunaikan wasiat almarhum orang tuanya. Seorang Muslim yang sedang bersujud dengan cara yang berbeda.

Bayangkan, 

Seorang kakek tua yang setiap subuh masih melafalkan syahadat, dengan ketetapan hati memberikan tanah paling berharga miliknya untuk rumah ibadah agama lain.

Itu bukan soal toleransi yang dibuat-buat di seminar. Itu adalah iman yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Iman yang tidak lagi takut tersaingi. Iman yang tidak lagi perlu membuktikan siapa paling benar.

Iman yang justru ingin berkata: Silakan saudaraku berdoa dengan tenang di tanahku, karena Tuhan yang kalian panggil di dalam gereja itu, adalah Tuhan yang sama yang mengajarkanku untuk mencintai sesama.

Inilah yang sesungguhnya. Bukan sekadar gotong royong mengangkat kayu atau menanam padi. Tapi gotong royong memikul beban kemanusiaan bersama.

Ade Robo Lahma telah membangun gereja bahkan sebelum batu pertama diletakkan. Ia membangunnya dengan ketulusan.

Dengan air mata yang tidak terlihat.

Dengan doa seorang petani yang paham, bahwa surga tidak dibangun dengan tembok yang memisahkan, tapi dengan jembatan yang menghubungkan.

Wahai umat beragama, lihatlah kakek ini.

Jika seorang petani tua dari Arakan bisa memberikan tanah warisannya untuk gereja, lantas apa alasan kita untuk masih saling membenci karena berbeda tafsir? Apa alasan kita untuk masih saling menghujat karena berbeda pilihan?

Dari kesederhanaan Ade Robo, langit Sulawesi Utara seperti berbisik :

Bahwa cinta kasih tidak mengenal sekat. Bahwa iman yang kuat tidak pernah menutup pintu kepedulian. Dan bahwa perbedaan sejatinya adalah panggung untuk saling menguatkan, bukan untuk saling meniadakan.

Terima kasih, Kek. Engkau telah membuat tanah 884 meter itu menjadi lebih luas dari Indonesia.

Manado, 24 Oktober 2026

Pimpinan Redaksi

Pemberian Manumbalang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *