
MANADO – Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA baru saja merilis hasil survei tiga pasangan calon Gubernur Sulut pertengah September 2024.
Laporan LSI Denny JA tidak sama sekali mencengangkan karena selain membawa sukacita bagi pasangan E2L-HJP, juga kabar gembira untuk pasangan SK – DT. Hasil survei tersebut, pasangan E2L – HJP 53,3 persen. Menyusul SK-DT 34,5 persen dan terakhir YSK-VM 4,3 persen.
Pada survei sebelumnya pada Maret dan Juni 2024 lalu, Elly Lasut menjadi yang teratas yakni di kisaran 59 persen. Sementara Steven Kandouw sekira 11 persen.
Jika dikonfrontir dengan survei bulan Maret 2024 lalu, maka E2L mengalami penurunan kurang lebih 6 persen dan SK melonjak naik 23 persen.
Fluktuasi tingkat kesukaan masyarakat khususnya Gen Z dan Milenial yang menjadi subyek survei ini tidak sekedar angka-angka yang disajikan LSI Denny JA.
Menurut peneliti hukum Rakyat Antikorupsi (RAKO) Harianto SPi, terdapat fenomena kesadaran intelektual pemilih Gen Z dan Milenial yang kemudian berimbas pada perubahan pola pikir berujung penentuan keputusan. Harianto secara eksplisit menyebutkan terjadi eksodus pemilih dari kaum Elian ke Stevenis sekitar 6 persen karena aktivasi intelektual. Proses penalaran yang obyektif karena merujuk pada database figur atau kandidat dan segala rekam jejak.
Kaum Elian dalam pemahaman Harianto yakni gelombang pendukung Elly Lasut yang cenderung mengkultuskan figur tanpa membaca referensi dan mengabaikan kepadatan informasi.
Sedangkan Stevenis merujuk pada segmen pemilih cerdas yang mengaktivasi nalar dengan membaca aneka referensi sebelum memberi keputusan.
Terlepas dari polarisasi voters Elian dan Stevenis, aktivis PAMI Perjuangan Jeffrey Sorongan mengutarakan pergerakan angka fluktuasi elektabilitas E2L dan SK ini memberikan deskripsi rasa hormat dan kesungguhan calon Gubernur membangun interaksi dengan masyarakat.
Sorongan menjelaskan, lonjakan elektabilitas SK di survei terakhir ini menunjukan partner pemerintah Olly Dondokambey itu serius membangun komunikasi dengan rakyat, berinteraksi secara langsung melalui pemaparan program dan mobilitas kinerja politik yang padat.
Sedangkan penurunan tingkat kesukaan masyarakat terhadap Elly Lasut boleh karena kejenuhan publik terhadap sosok yang tidak menawarkan apa-apa ke masyarakat kecuali mendamatisir status hukum masa lalu di sosmed.
“Di sini terlihat bahwa SK berhasil membangun rasa hormat terhadap rakyatnya. Interaksi yang mendalam dan ekspansif itu wujud rasa hormat seorang calon pemimpin terhadap rakyatnya. Artinya kenaikan persentase survei itu kan bukti bahwa ada perjumpaan yang serius antara kandidat (SK) dan pemilih, ada ikatan atau kontrak politik yang dibangun tanpa sekat antara figur pemimpin dan rakyat yang di bawah. Interaksi itu kemudian berdampak pada perubahan mindset pemilih yang sebelum mengkultuskan secara buta sosok lain dan membuat keputusan saatnya memilih pemimpin dengan track record terbaik,” jelas Sorongan menanggapi hasil Survei LSI.
Lanjut kata Sorongan, fenomena penurunan persentase elektabilitas Elly Lasut disinyalir karena kesadaran intelektual pemilih khususnya Gen Z bahwa terjadi misinformasi mengenai sosok yang sebelumnya diagung-agungkan. Kondisi absensi pengetahuan yang utuh tentang kandidat, berubah seiring determinasi media yang intens menyuguhkan informasi detil tentang latarbelakang figur membuat persepsi kaum Elian kembali berubah.
“Gen Z itu kan segmen pemilih yang secara umum memang berada di tahapan pendidikan. Segmen pemilih yang akrab dengan aktivitas keilmuan dan keilmiahan. Jadi sebenarnya tidak terlalu mengejutkan kalau kemudian ada perubahan sikap kritis Gen Z dan Milenial tentang kandidat, karena mereka adalah generasi yang memikirkan masa depan daerah. Bukan generasi yang lumpuh karena stimulasi pemikiran kaum tua yang cenderung mengkultuskan seseorang seolah -olah tidak ada ruang untuk figur lain yang lebih baik,” jelas Sorongan. (HKT)








