
MANADO – Seruan “Ganti Warna” yang sering dilancarkan lawan politik PDI Perjuangan mendapat tantangan balik dari para pendukung pasangan calon Gubenur – Wakil Gubenur Steven Kandouw – Denny Tuejeh (SK-DT ). Masyarakat PDIP mempersilahkan upaya mengganti kekuasaan dengan sosok partai lain asalkan kandidat yang didorong benar-benar tampil dengan standar moral yang bersih, berwibawa dan tidak bercela.
“Boleh (ganti warna). Asal bukan pemimpin bejat yang hidup dalam kemaksiatan dan kerap flexing kebejatan di sosial media. Karena pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin yang memberi teladan bagi ribuan generasi muda Sulut,” komentar Danny Tang, simpatisan PDIP dari Minahasa.
“Calon pemimpin yang terang benderang merampas istri orang itu contoh nyata pemimpin yang tidak punya hati nurani. Kita tidak rela orang cacat moral memimpin jutaan warga Sulut,” timpal Luky, simpatisan PDIP dari Malalayang.
Randy, salah satu kader PDIP Bitung mengomentari, bahwa saat ini ada dorongan ‘Ganti Warna’ dari lawan politik dengan membawa isu korupsi di pemerintahan ODSK. Tapi sayang upaya ini hanya salah satu gorengan politik untuk menggerus elektabilitas Paslon yang tidak bercela.
“Korupsi itu ada parameter dan ukurannya. SK-DT sejauh ini bersih. Mereka tidak teridentifikasi sebagai koruptor, atau pemimpin maksiat yang merampas istri orang. SK-DT memenuhi standar yang diinginkan rakyat,” ujar Randy.
Aktivis Demokrasi Sulut Jeffrey Sorongan mengatakan, kesulitan terbesar mewujudkan keinginan ganti warna, karena figur yang ditawar sebagai pengganti, justru datang dengan segelintir masalah moral pun tuduhan korupsi.
“Mau ganti warna yang bagaimana. Orang yang dianggap menjadi pengganti dirundung isu maksiat, moral bejat, korupsi yang berkelindan dan gagal memimpin sebuah daerah. Tekad mengganti warna itu idealnya siapkan dulu siapa pemimpinnya,” terang Sorongan. (EPO)












