Editorial, Menuju Karpet Merah Welly Titah Anisya Bambungan, Harapan Baru Masyarakat Porodisa Dalam Sikap Saling Memuliakan

Penulis : Pemberian Manumbalang, Pemimpin Redaksi Lambeturah24

Cara terbaik dari rakyat dalam memuliakan pemimpinnya adalah menghormati setiap program kerjanya sedangkan cara terbaik dari seorang pemimpin dalam mengayomi rakyatnya adalah dengan mendengarkan rintihan dan keluhan mereka, berlaku arif dan bijaksana dalam membangun komunikasi yang efektif dan transparan dengan memperlakukan setara tanpa tendensi “Anak Tiri” antar lintas komponen anak daerah.

Pemimpin juga harus menunjukkan integritas, jujur dan peduli terhadap sesama dalam berbagai kondisi sosial. Komitmen inilah yang kerap terlihat dari sikap dan tutur saat penulis berdiskusi dengan Kedua Pemimpin Tanah Porodisa (Talaud-red) Welly Titah-Anisya Gretsya Bambungan yang sebentar lagi bergerak menuju “Karpet Merah”. pada tanggal 20 Juni 2025.

Tak berlebihan jika Penulis harus menyatakan bahwa figur Welly Titah-Anisya Gretsya Bambungan adalah Pemimpin yang tak jumawa, berbudi luhur dan nyaris paripurna, dimana Welly Titah adalah sosok Pemimpin yang berjiwa besar sekaligus pengayom yang berhati ikhlas berpadu dengan Anisya Gretsya Bambungan yang memiliki sikap ramah yang selalu merangkul dengan kasih.

Dalam sebuah kesempatan pasca Pembacaan Putusan Mahkamah Kontitusi tentang Perselisihan Hasil Pemilukada Talaud, Penulis sangat terkesima sekaligus terharu atas himbauan seorang pemimpin muda besahaja, Anisya Gretsya Bambungan, yang sebentar lagi akan resmi memikul tanggung jawab besar sebagai Wakil Buapati Talaud.

“Saatnya kita merawat Persaudaraan, marilah kita saling merangkul dan memaafkan demi membangun Tanah Porodisa tercinta, Talaud harus dibangun diatas rasa saling menghormati jauh dari rasa benci”. Ujar Anisya kepada Penulis saat Wawancara di kediamannya Di Desa Taturan Kecamatan Gemeh beberapa waktu lalu.

Kini harapan publik dititipkan kepada Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Talaud (WT-AGB) dalam merajut kembali keutuhan yang terkoyak di daerah tercinta sebagai imbas kontestasi pemilukada beberapa waktu yang silam bahkan sempat menguras emosi dan kecewa karena harapan tak sesuai dengan kenyataan.

Luapan kekecewaan dibarengi hujatan dan caci maki, kritikan berbalut hinaan sempat bertebaran dimana mana, baik di dunia maya lewat media sosial maupun didunia nyata dalam pergunjingan antar kelompok yang semuanya adalah cermin retak atas ke tidak dewasaan dalam berdemokrasi, namun demi keutuhan daerah harus dikubur dalam dalam meski terasa pahit dan menyakitkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN) semestinya tak boleh mengais jabatan di Pilkada karena jabatan adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada Pemimpin Daerah, itulah sebabnya publik masih sangat percaya bahwa Pemangku Jabatan yang tak berbudi pekerti, kerap dibina oleh Pimpinannya dengan menarik kembali amanah yang ditipkan bahkan ada pejabat yang langsung “Dibinasakan” oleh Tuhan, karena dalam jabatan bersemayam doa yang terukir lewat Sumpah dan Janji Jabatan.

Saatnya bersatu kembali melanjutkan pembangunan daerah. Rivalitas sudah selayaknya dikubur dalam-dalam demi merajut kembali semangat “Sansiotte Sampate-pate untuk memulihkan semangat kebersamaan yang terlihat kian porak poranda jauh dari batas batas toleransi.

Pesta Demokrasi telah usai, jalan panjang telah dilalui, kini sukacita itu memancar karena terselip harapan baik, cita-cita mulia, sekaligus niat luhur, bahwa kehadiran kepala daerah pasca dilantik, bisa memenuhi aspirasi warga dalam membawa kesejahteraan dan kemajuan daerah diatas keutuhan dan persaudaraan dengan menjunjung sikap saling memuliakan. (Redaksi***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *