Catatan Redaksi
Talaud, Lambeturah24– TNI adalah pelindung rakyat yang lahir dari luka Bangsa yang tersayat akibat ulah dari kaum imperialis dan kolonialis penjajah yang semena-mena menindas rakyat Indonesia. Dan dari sanalah awalnya TNI manunggal dengan rakyat yang kini tidak hanya sebatas slogan karena dari medan tugas TNI-lah tercermin nilai keberanian, loyalitas, dan cinta tanah air.
Beranjak dari falsafah TNI adalah Tentara Rakyat yang hidup dengan Rakyat inilah yang membuat Saya sebagai Pemimpin Redaksi Media Lambeturah24.com terpanggil untuk menulis jejak, komitmen, dan sikap patriotis dari Prajurit TNI, Letkol Arh. Yanuar Yudistira, S.T (Dandim 1312/Talaud) sebagai bentuk apresiasi dan terimakasih atas pengabdian kepada Bangsa dan Negara sekaligus pijakan inspirasi bagi generasi muda yang menghargai dedikasi.
Tulisan ini dirangkum oleh Redaksi dari berbagai sumber termasuk testimoni lintas masyarakat Talaud yang mengapresiasi kiprah dan pengabdian dari Dandim 1312/Talaud Letkol Arh. Yanuar Yudistira, S.T kepada Bangsa dan Negara di daerah Terpencil dengan status Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T).
Dalam pengamatan Redaksi bahwa Sebagai seorang Prajurit yang mengabdi di daerah terluar, tanggung jawab kepada rakyat dan Negara dari Pria jebolan AKMIL Magelang tahun 2005 Silam sungguh berat, mengingat kabupaten Talaud sebagai daerah perbatasan yang kerap menjadi daerah transit bagi para penjahat internasional, seperti sindikat Narkoba lintas Negara, Terorisme, Ilegal Fishing, serta potensi invasi Negara lain yang berpeluang merong-rong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Diketahui bahwa Kabupaten Kepulauan Talaud selain rawan dari invasi asing, secara geografis Kabupaten Talaud juga merupakan wilayah bahari yang luas dengan tantangan alam yang sangat ekstrim, bahkan yang paling mengkhawatirkan bahwa Talaud berada tepat dijalur Cincin Api Pasifik sehingga sangat rawan akan terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami
Namun ditengah tugas dan tanggung jawab besar yang diembannya tak membuat Pria Kelahiran Malang 11 Januari 1984 silam tersebut mengesampingkan perannya dalam aspek sosial sebagai tanggung jawab kemanusiaan, sehingga masyarakat di daerah tempatnya mengabdi merasa aman dan terlindungi.
Dalam berbagai hajatan, baik itu hajatan tradisional adat, sosial kemasyarakatan maupun hajatan resmi Kenegaraan yang diselenggarakan di kabupaten Kepulauan Talaud, Prajurit yang pernah merasakan dinginnya “Lembah Tidar” dalam tempaan pendidikan Akademi Kemiliteran (AKMIL) di Magelang selalu tampil familiar, ramah dan bersahaja
Sebagai penulis yang telah puluhan tahun malang melintang di dunia jurnalis, jujur saya belum menemukan deskripsi yang paling berkenan untuk menggambarkan Figur Letkol Arh. Yanuar Yudistira, S.T Dandim 1312/Talaud yang iklas mengabdi sebagai pengayom di daerah terpencil yang diketahui paling utara dari Republik ini.
Ia (Dandim-red) selalu mengingatkan jajarannya untuk selalu berempati dan hadir menjadi solusi dalam setiap kondisi sosial yang menghimpit kehidupan rakyat dimanapun berada terlebih khusus masyarakat yang ada di kabupaten Kepulauan Talaud.
Memiliki sederet prestasi dan menempati jabatan stategis di usia yang tergolong muda dalam jenjang karir kemiliteran membuat pria kelahiran Malang, 11 Januari Tahun 1984 silam ini tidak melupakan nikmat rahmat dari Allah SWT,
Salah satu Ulama dan Tokoh Muslim di Talaud, Zubair Hengkebohang kepada Redaksi baru baru ini memberikan testimoni tentang ketokohan dari seorang Letkol Arh. Yanuar Yudistira. (Dandim 1312/Talaud).
Menurutnya, Lekol Arh. Yanuar Yudistira adalah figur pemimpin bijak yang sangat layak jadi panutan.
“Letkol Yanuar Yudistira adalah sosok panutan, lisannya selalu terpimpin dan penuh dedikasi, hatinya selalu diliputi rasa welas asih, Ia (Dandim 1312/Talaud-red) tipe pemimpin yang berbudi luhur yang taat pada Agamanya, setia pada Bangsanya, dan juga cinta pada Rakyat dan Sesamanya”. Ujar Ulama yang akrab disapa Pak Haji Bai tersebut.
Sementara itu Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Kepulauan Talaud Seprianton Saranaung, juga memberikan testimoni yang hampir sama dedikasi dari Seorang Yanuar Yudistira, Prajurit TNI yang iklas mengabdi di pelosok dalam tugas panggilan Negara sebagai Komandan Distrik Militer (Kodim 1312/Talaud) sebuah daerah terpencil paling utara republik ini yang berbatasan langsung dengan Negara Filipina.
“Dalam catatan kami, Letkol Arh. Yanuar Yudistira sebagai Dandim 1312/Talaud adalah poret hidup yang patut menjadi teladan terhadap generasi muda dalam hal kepekaan sosial, Betapa beliau (Letkol Yanuar-red) selalu mengingatkan bahkan memerintahkan jajarannya agar selalu turun kebawah ditengah masyarakat untuk memahami setiap jengkal penderitaan rakyat terutama masalah kesehatan kaum rentan yang jarang terpasilitasi, seperti kesehatan Ibu hamil, bayi, anak anak, lanjut usia dan terlebih kaum disabilitas”. Tutur, Seprianton Saranaung Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Kepulauan Talaud menguraikan pengamatannya.
Menurutnya Prajurit jebolan Akmil Magelang tahun 2025 tersebut telah berhasil menorehkan tinta emas dalam bingkai dedikasi kemanusiaan. Ia adalah sosok pengayom yang tegas namun rendah hati, bijak dalam memahami berbagai interaksi sosial serta arif dalam memanusiakan manusia.
“Figur Lekol Arh. Yanuar Yudistira, S.T sosok yang dikagumi di daerah ini karena kemuliaan jiwa dalam melayani selalu selalu terpancar dalam kesehariannya, Tokoh ini salalu respek terhadap keberadaan mayarakat Talaud dari berbagsi lapisan tanpa memandang suku, agama ras dan antar golongan yang diketahui merupakan pengamalan Delapan Wajib TNI”. Ujar Saranaung.
Tim Redaksi juga berupaya merangkum berbagai informasi dengan meminta tanggapan dari prajurit TNI yang bertugas di lapangan salah satunya wawancara dengan salah satu Anggota Koramil 1312-04/Rainis tentang bagaimana profil kepemimpinan Letkol Arh. Yanuar Yudistira sebagai Dandim 1312/Talaud?
Meski terlihat enggan memberikan pernyataan tentang gaya kepemimpinan Dandim 1312/Talaud namun penulis sangat menghormati sikap Prajurit TNI tersebut karena menurutnya, sebagai Prajurit bawahan dirinya sangat tidak layak menilai pimpinan.
“Pak Dandim adalah sosok pemimpin yang baik dan mengayomi baginya kepentingan Negara diatas segalanya, Beliau seorang pamong yang sangat peduli, baik kepada jajarannya maupun lingkungan sosial di Talaud, tapi sebagai Prajurit bawahan saya sungguh tidak elok menilai pimpinan”. Ujar Prajurit yang berpangkat sertu tersebut meminta namanya untuk disimpan Redaksi.
Dari berbagai informasi penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Dandim 1312/Talaud telah sangat maksimal membantu rakyat dengan mengerahkan semua jajaran Prajurit TNI di jajaran Kodim 1312/Talaud termasuk delapan Komando Rayon Militer (Koramil) yang tersebar di seantero bumi Porodisa (Talaud-red) agar selalu siaga berada di tengah masyarakat untuk menjadi solusi dalam membantu dan mengatasi berbagai kesulitan yang melilit kehidupan rakyat, sebagai jawaban pengamalan dari amanat delapan wajib TNI.
Berikut Sekelumit Informasi tentang wilayah dan tempat dari Letkol Arh. Yanuar Yudistira mengabdi yaitu kabupaten Kepulauan Talaud.
Secara astronomis, Kabupaten Kepulauan Talaud terletak antara 3° 38′ 00″ hingga 5° 33′ 00″ Lintang Utara (LU) dan 126° 38′ 00″ hingga 127° 10′ 00″ Bujur Timur (BT).
Kemudian Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020 menetapkan bahwa kabupaten Kepulauan Talaud salah satu daerah di Indonesia yang termasuk kategori wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) karena dalam klasifikasi memiliki keterbatasan pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan
Talaud termasuk daerah Tertinggal Terdepan, dan Terluar karena lokasinya yang berada di perbatasan Indonesia-Filipina dengan memiliki banyak pulau kecil yang terpencil dengan aksesibilitas terbatas dan sering menghadapi tantangan geografis yang ekstrim.
Berikut alasan Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk Daerah 3T:
Terdepan & Terluar: Terletak di ujung utara Indonesia, berbatasan langsung dengan Negara Filipina, dengan banyak pulau-pulau kecil terluar yang dihuni maupun tidak berpenghuni (seperti Miangas, Marampit).
Tertinggal: Mengalami keterbatasan infrastruktur dan produksi lokal, membuat pasokan kebutuhan pokok dari Manado atau Bitung seringkali mahal dan sulit.
Geografis & Bencana: Merupakan wilayah bahari luas dengan tantangan alam ekstrem (gempa, tsunami) karena berada di jalur Cincin Api Pasifik. (Red/Pmb***)











