Catatan Kritis: Elbidahs Pakila
Praktisi Project Management, Konstruksi dan Pengembangan Infrastruktur
Lambeturah, Manado terus bertumbuh. Gedung baru bermunculan, kawasan perdagangan berkembang, kendaraan semakin banyak, dan aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat. Dari kejauhan, semua itu adalah tanda kemajuan.
Namun ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah infrastruktur Kota Manado tumbuh secepat kotanya?
Pertanyaan ini perlu dijawab secara objektif. Sebab pembangunan bukan sekadar berapa banyak gedung yang berdiri, berapa panjang jalan yang dibangun, atau berapa besar anggaran yang dibelanjakan.
Pembangunan seharusnya berbicara mengenai seberapa baik sebuah kota bekerja dan seberapa layak kota tersebut dihuni.
Manado Sedang Berhadapan dengan Persoalan Kota yang Semakin Kompleks
Kemacetan mulai menjadi bagian dari keseharian. Pada sejumlah titik, kapasitas jalan semakin terbebani oleh pertumbuhan kendaraan dan aktivitas komersial.
Persoalan drainase dan genangan juga tidak bisa terus dipandang sebagai persoalan musiman. Ketika hujan datang dan sejumlah kawasan kembali mengalami genangan, kita seharusnya tidak hanya bertanya bagaimana mengalirkan air secepat mungkin, tetapi juga apakah sistem drainase, tata ruang, daerah resapan, dan perkembangan kawasan masih bekerja sebagai satu kesatuan.
Kemudian ada persoalan persampahan.
Kota yang berkembang menghasilkan sampah yang semakin banyak. Jika pertumbuhan timbulan sampah tidak diikuti sistem pengumpulan, pemilahan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir yang modern, persoalan hari ini hanya akan diwariskan dalam skala yang lebih besar pada masa mendatang.
Belum lagi keselamatan bangunan.
Setiap insiden kebakaran pada bangunan komersial seharusnya menjadi bahan evaluasi bahwa perkembangan kota harus diikuti peningkatan standar fire safety, jalur evakuasi, sprinkler, hydrant, smoke control, fire door, emergency lighting, serta inspeksi dan pemeliharaan berkala.
Keselamatan bukan pelengkap pembangunan. Keselamatan adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.
Kita Terlalu Sering Membangun Secara Parsial
Salah satu tantangan pembangunan perkotaan adalah kecenderungan menyelesaikan persoalan secara sektoral.
Jalan macet, kita bicara pelebaran jalan.
Banjir terjadi, kita bicara drainase.
Sampah menumpuk, kita bicara penambahan armada.
Kebakaran terjadi, kita bicara APAR.
Padahal kota adalah sebuah sistem.
Transportasi berhubungan dengan tata ruang. Tata ruang berhubungan dengan drainase. Drainase berhubungan dengan lingkungan. Pertumbuhan bangunan berhubungan dengan keselamatan. Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi berhubungan dengan sampah, air bersih, sanitasi, energi, dan pelayanan publik.
Karena itu, Manado membutuhkan pendekatan integrated urban infrastructure planning.
Bukan sekadar daftar proyek tahunan, melainkan sebuah kerangka pembangunan yang menghubungkan proyek satu dengan lainnya.
Manado Membutuhkan Infrastruktur untuk 20–30 Tahun ke Depan
Kita perlu mulai bertanya:
Manado seperti apa yang ingin kita bangun menuju 2045?
Apakah kota yang semakin bergantung pada kendaraan pribadi?
Atau kota yang memiliki transportasi publik nyaman dan terintegrasi?
Apakah kota yang terus memperbesar kebutuhan tempat pembuangan akhir?
Atau kota yang mampu mengurangi, memilah, dan mengolah sebagian besar sampahnya sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir?
Apakah pembangunan gedung hanya mengejar estetika dan nilai komersial?
Atau keselamatan, efisiensi energi, aksesibilitas, dan ketahanan terhadap bencana menjadi standar baru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari fondasi perencanaan pembangunan.
Sulawesi Utara Membutuhkan Lebih dari Satu Pusat Pertumbuhan
Pembangunan Sulawesi Utara juga tidak seharusnya seluruhnya bertumpu pada Manado.
Manado, Bitung, Tomohon, Minahasa, dan Minahasa Utara dapat dikembangkan sebagai jaringan kawasan yang saling melengkapi.
Manado diperkuat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa.
Bitung memiliki kekuatan sebagai kawasan industri, pelabuhan dan logistik.
Tomohon mempunyai karakter dalam pendidikan, pariwisata, pertanian dan ekonomi kreatif.
Minahasa dan Minahasa Utara memiliki ruang untuk mendukung pangan, permukiman, pariwisata dan pertumbuhan kawasan baru.
Jika pusat-pusat pertumbuhan tersebut terhubung melalui sistem transportasi dan infrastruktur yang baik, tekanan pembangunan terhadap Kota Manado dapat dikurangi.
Kita tidak perlu menunggu Manado menjadi terlalu padat sebelum memikirkan distribusi aktivitas ekonomi dan pembangunan.
Jangan Menunggu Masalah Menjadi Krisis
Dalam manajemen proyek terdapat prinsip sederhana: biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya kegagalan.
Meningkatkan sistem drainase sebelum persoalan membesar lebih rasional dibandingkan menanggung kerugian berulang akibat banjir.
Memastikan sistem proteksi kebakaran bekerja jauh lebih murah daripada kehilangan aset—apalagi kehilangan nyawa.
Membangun sistem pengelolaan sampah yang modern sekarang akan lebih rasional dibandingkan menangani krisis sampah satu atau dua dekade mendatang.
Hal yang sama berlaku terhadap transportasi.
Membangun sistem transportasi publik ketika kota masih memiliki ruang jauh lebih memungkinkan dibandingkan mencoba membangunnya setelah seluruh koridor utama menjadi padat.
Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Persoalan perkotaan sudah terlalu kompleks untuk dibebankan hanya kepada pemerintah.
Pemerintah membutuhkan akademisi, insinyur, arsitek, perencana kota, pelaku usaha, komunitas, serta masyarakat.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu mengubah cara menyampaikan kritik.
Kritik seharusnya tidak berhenti pada menunjukkan apa yang salah.
Kritik terbaik adalah kritik yang membawa data, alternatif, desain, perhitungan, dan solusi.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah dan masyarakat tidak perlu selalu berdiri pada dua sisi yang berlawanan. Keduanya dapat berada pada meja yang sama untuk menyelesaikan persoalan yang sama.
Sulawesi Utara Memerlukan Roadmap Infrastruktur Jangka Panjang
Sulawesi Utara memiliki posisi geografis strategis di kawasan Pasifik. Manado, Bitung, Likupang, Tomohon, Minahasa dan kawasan sekitarnya memiliki fungsi serta potensi ekonomi yang berbeda.
Potensi tersebut membutuhkan satu kerangka pembangunan yang menghubungkannya.
Karena itu, sudah waktunya Sulawesi Utara mempertimbangkan penyusunan Roadmap Infrastruktur Sulawesi Utara 2045 yang mengintegrasikan sekurang-kurangnya transportasi, drainase dan pengendalian banjir, persampahan, air bersih dan sanitasi, keselamatan bangunan, kawasan ekonomi, pariwisata, serta pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Roadmap tersebut seharusnya memiliki indikator kinerja, prioritas proyek, tahapan implementasi, kebutuhan pembiayaan, serta pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menjawab kebutuhan tahun anggaran berjalan, tetapi bergerak menuju target yang sama dalam jangka panjang.
Penutup: Dari Proyek Menuju Sistem
Sulawesi Utara tidak kekurangan proyek. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap proyek menjadi bagian dari sebuah sistem pembangunan yang memiliki arah.
Jalan tidak boleh direncanakan tanpa memikirkan transportasi. Drainase tidak boleh direncanakan tanpa mempertimbangkan tata ruang dan daerah aliran air. Pembangunan gedung tidak boleh dilepaskan dari keselamatan. Pengelolaan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Semua harus bertemu dalam satu kerangka perencanaan.
Karena itu, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, dunia usaha dan para profesional perlu mulai membangun satu meja perencanaan infrastruktur Sulawesi Utara menuju 2045.
Bukan untuk menghasilkan dokumen baru yang kemudian tersimpan di lemari.
Tetapi untuk menentukan apa yang harus dibangun, di mana harus dibangun, kapan harus dibangun, berapa kebutuhannya, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana keberhasilannya diukur.
Jika itu dapat dilakukan secara konsisten, maka ukuran keberhasilan pembangunan Sulawesi Utara tidak lagi sekadar banyaknya proyek yang diresmikan.
Ukuran keberhasilannya adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih penting:
apakah kota bekerja lebih baik, apakah masyarakat hidup lebih aman dan nyaman, dan apakah setiap rupiah pembangunan hari ini masih memberikan manfaat puluhan tahun kemudian.
Itulah arah pembangunan yang menurut saya perlu mulai kita bicarakan. (Red/*)













