DI BALIK PUING SAKURA, 60 JIWA KEHILANGAN RUMAH DALAM 3 JAM

Penulis : Kord Lipuran Hukrim (Pra)

MANADO, Lambeturah24.com – Senin sore itu seharusnya biasa saja di Gang Sakura. Ibu-ibu baru selesai memasak, anak-anak baru pulang sekolah. Pukul 16.55 WITA, asap tebal naik. Dalam hitungan menit, kobaran api mengubah gang sempit itu menjadi lorong api.

Tiga rumah rata dengan tanah. Empat lainnya menyisakan dapur hangus dan ruang tamu yang arangnya masih mengepul. 11 Kepala Keluarga, 60 orang, malam itu tidur tanpa atap.

Tidak ada korban jiwa – itu keajaiban. Tapi yang hilang bukan cuma dinding dan atap.

Investigasi kecil yang menyentuh:

1. Gang Sempit Itu Bukan Kebetulan.
Api cepat merembet karena jarak rumah hanya selangkah. Angin kencang Sario jadi pemicu, tapi pertanyaan yang lebih dalam: Sudah berapa lama warga di Gang Sakura hidup dalam kepadatan tanpa jarak aman? 12 armada Damkar dikerahkan – 9 dari Pemkot, 2 AWC Polda, 1 dari Kodim – tapi mereka harus berjibaku menembus gang yang bahkan satu mobil saja sulit masuk. Ini bukan salah petugas yang 3 jam berjibaku. Ini soal tata ruang permukiman padat di Manado yang selama ini luput.

2. Yang Diselamatkan Bukan Cuma Barang.
Kompol Elwin Kristanto menyebut polisi ikut mengamankan barang warga untuk cegah penjarahan. Di tengah panik, ada warga yang hanya sempat bawa ijazah anak dan foto keluarga. Ada yang kembali masuk bukan untuk TV, tapi untuk kucing peliharaannya. Di puing itu, yang diselamatkan adalah identitas.

3. Ratusan Juta Itu Angka Dingin.
Kerugian ditaksir ratusan juta. Tapi bagi 11 KK itu, kerugian bukan angka. Satu ibu kehilangan warung kecil yang jadi tumpuan hidup setelah suami meninggal. Satu kakek kehilangan obat-obatan rutin yang ikut terbakar. Malam itu mereka tidak butuh statistik, mereka butuh selimut, air bersih, dan kepastian besok tinggal di mana.

4. Pertanyaan yang Belum Dijawab:
Polresta Manado dan Inafis Polda Sulut bilang penyebab masih diselidiki. Kita hormati proses itu. Tapi publik berhak bertanya: Apakah ada pemeriksaan instalasi listrik di permukiman padat ini sebelumnya? Apakah ada hidran atau sumber air darurat di Lingkungan III? Jika api kembali terjadi minggu depan di gang sebelah, apakah 12 armada masih harus berjuang melawan gang sempit yang sama?

Kebakaran Sario bukan sekadar “musibah”. Ini cermin.

Cermin tentang bagaimana 60 orang bisa kehilangan segalanya dalam waktu lebih singkat dari satu sinetron sore. Dan bagaimana setelah api padam, proses pendinginan bara itu penting – tapi pendinginan trauma 60 orang itu jauh lebih lama.

Malam ini, di Jalan Sakura, tidak ada suara TV dari 3 rumah itu. Hanya ada puing, bau hangus, dan 11 KK yang saling menguatkan. Mereka tidak butuh simpati sesaat. Mereka butuh kehadiran. (Pra/Editorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *