Penulis : Pemberian Manumbalang (Pemimpin Redaksi)
Sulawesi Utara, LAMBETURAH24.COM– Ada pemandangan yang jarang kita lihat di negeri ini. Seorang Kapolda, dengan bintang dua di pundak.
Ia tidak berdiri di atas podium, tidak dikawal protokoler yang kaku, tapi berjalan di aspal panas Manado, menyapa tukang parkir, menyalami pemuda jalan roda, lalu duduk di kursi plastik sebuah warkop bernama Goes.
Dan itulah yang dilakukan Irjen Pol. Yudo Hermanto dan Kombes Pol. Irham Halid pada Selasa, 20 Oktober 2026 itu. Di sebelahnya, Kapolresta Manado. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat.
Foto yang beredar itu bukan sekadar dokumentasi. Itu adalah manifesto. Bahwa keamanan tidak lahir dari senjata, tapi dari secangkir kopi yang diminum bersama.
Kita sudah terlalu lama melihat polisi hanya ketika ada sirine, ada razia, ada garis kuning. Kita lupa bahwa tugas paling berat seorang polisi bukanlah mengejar penjahat, tapi merebut kembali kepercayaan.
Mereka tidak memanggil tokoh masyarakat ke Mapolda yang dingin dan ber-AC. Mereka yang datang. Mereka yang menunduk, mendengarkan. Mereka yang duduk satu meja dengan para haji, para tetua, para pemuda yang tato-nya lebih banyak dari piagamnya.
Di Manado, kita punya filosofi tua: Mapalus. Bekerja bersama, susah bersama, jaga bersama.
Kapolda Sulut menghidupkan kembali Mapalus itu dalam versi paling modern. Ia tidak bicara soal KUHP, ia bicara soal torang. Mapalus Torang Jaga Manado. Kalimat yang sederhana, tapi menyayat. Karena ia mengubah paradigma: dari “Polisi menjaga masyarakat” menjadi “Torang menjaga torang pe Manado sama-sama.”
Komunitas jalan roda yang selama ini sering dicap sebagai sumber kebisingan dan keresahan, hari itu dirangkul. Bukan digaruk. Para tokoh agama yang biasanya hanya diundang saat ada acara seremonial, hari itu diajak rembuk sebagai mitra.
Ini bukan pencitraan. Pencitraan itu butuh kamera profesional dan naskah. Yang ada di Warkop Goes itu adalah keringat, meja yang lengket, air mineral dalam gelas plastik, dan tawa yang lepas.
Inilah wajah Polri yang dirindukan publik. Polri yang tidak hanya hadir saat warga melapor, tapi hadir sebelum warga merasa perlu melapor.
Jika setiap Kapolda di Indonesia mau melakukan hal yang sama — turun, duduk, dengar — maka kita tidak perlu lagi ribuan spanduk “Polri Presisi”. Karena presisi itu bukan soal aplikasi. Presisi itu soal hati yang presisi mendengar denyut rakyatnya.
Manado hari ini aman. Bukan karena banyak polisi di jalan. Tapi karena Kapoldanya dan Kapolrestanya memilih untuk menjadi bagian dari jalan itu sendiri.
Hormat kami untuk dedikasi itu. Teruslah duduk di warkop-warkop rakyat, Jenderal. Di sanalah detak jantung Manado yang sesungguhnya. (Red/*








