Catatan Kaum Awam yang Lelah Melihat Mimbar Jadi Panggung Topeng
Oleh: Jim Robert Tindi
Lambeturah24,– Jemaat tidak buta. Jemaat hanya diam karena masih menghormati jubah itu. Tetapi ketika jubah itu sendiri yang mengkhianati kekudusan, diam kita adalah dosa yang kedua.
Jangan salah alamat!.
Roh perzinahan hari ini tidak lagi bersembunyi di diskotik, di bar, di hotel remang-remang. Ia sudah pindah alamat. Ia punya kartu anggota jemaat. Ia duduk di barisan pelayan khusus. Ia memegang mic, memimpin pujian, bahkan memecah-mecahkan roti perjamuan.
Dan gereja? Gereja memeliharanya.
Kita Memelihara Dengan Kasih Palsu. Kita berlindung di balik kalimat rohani: “Jangan menghakimi.” Padahal Alkitab tidak pernah menyuruh kita menutup mata terhadap dosa yang dipertontonkan.
Kasih yang membiarkan perzinahan tetap berdiri di atas Mezbah bukanlah kasih. Itu adalah racun yang dibungkus ayat. Kasih sejati itu berani berkata: “Bertobat, atau turun dari mimbar.”
- Korintus 5:13 tidak basa-basi: “Usirlah orang yang jahat dari tengah-tengah kamu.”
Ini luka yang paling dalam dan paling menjijikkan secara rohani. Tangan yang semalam memeluk tubuh yang bukan miliknya, pagi ini mengangkat cawan darah Yesus? Mulut yang berbisik janji perzinahan, malamnya dipakai untuk bernubuat di mimbar?
- Kita Memelihara Dengan Memberi Mimbar Kepada Orang Yang Belum Bertobat.
Mimbar bukan tempat cuci dosa, dan Mezbah adalah tempat orang yang SUDAH dicuci darah Yesus bersaksi tentang kekudusan.
Ketika kita membiarkan pezinah tetap berkhotbah, tetap menjadi Diaken, Penatua, bahkan Gembala, kita sedang berkhotbah dengan sangat lantang kepada seluruh jemaat: “Perzinahan tidak apa-apa. Kekudusan itu lelucon.”
Anak-anak muda di GMIM melihat itu. Apa yang mereka pelajari? Bahwa dosa bisa dinegosiasi. Bahwa jabatan bisa menutupi perzinahan.
- Kita Memelihara Dosa Dengan Diamnya Para Pemimpin.
Ini yang paling mematikan. Pemimpin tahu. Majelis tahu. Teman sepelayanan tahu ada perselingkuhan. Ada perzinahan. Ada rumah tangga kedua yang disembunyikan.
Tapi semua diam. Demi apa? Demi nama baik gereja. Demi persembahan tetap aman. Demi pemilihan Pelsus tetap damai. Demi kedamaian palsu.
Diam adalah persetujuan. Diam adalah pemeliharaan.!
Dan ingat hukum rohani: Roh perzinahan tidak pernah datang sendirian. Ia selalu datang membawa rombongannya: Roh Kebohongan untuk menutupi, Roh Perpecahan untuk memecah keluarga pelayan, dan Roh Pemberontakan terhadap kekudusan Allah.
Akibatnya?
Gereja masih ramai, tapi hadirat Tuhan sudah undur pelan-pelan. Ibadah masih meriah, tapi kuasa pertobatan hilang. Paduan suara masih lantang, tapi tidak ada satu jiwa pun yang menangis karena dosanya. Mengapa? Karena Roh Kudus tidak akan pernah mau berbagi bait dengan roh perzinahan.
Lalu Apa Jalan Keluar?
Bagi Gereja, jalankan (Matius 18). Tegur empat mata. Bawa saksi. Bawa ke jemaat. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menyelamatkan jiwa itu dan menyelamatkan tubuh Kristus dari pembusukan.
Pemimpin yang jatuh dalam perzinahan harus DITURUNKAN dari mimbar. Dipulihkan di ruang pribadi, di kaki salib, bukan dipulihkan di atas mimbar sambil tetap memimpin.
Bagi yang jatuh: Jika engkau jatuh, jangan lari ke mimbar. Larilah ke kaki salib. Jangan pakai pelayanan untuk menutupi dosamu. Tanggalkan dulu jubah pelayananmu, bereskan dulu tempat tidurmu yang najis, bertobat sungguh-sungguh di tempat tersembunyi sebelum Tuhan sendiri yang membukanya di tempat terang.
Dengar ini:
Gereja yang sehat bukan gereja yang steril dari dosa. Gereja yang sehat adalah gereja yang tidak memelihara dosa.
Tuhan tidak sedang mencari gereja yang paling populer, paling besar gedungnya, paling banyak Pelsusnya. Tuhan sedang mencari gereja yang kudus.
Tuhan tidak mencari pelayan yang paling pintar berkhotbah, paling merdu suaranya. Tuhan mencari pelayan yang bersih tangannya.
Sudah waktunya GMIM memilih: Mau menyenangkan manusia dan menjaga kursi Pelsus, atau mau berkenan di hadapan Tuhan dan menjaga kekudusan mimbar?
Mimbar itu Mulia, Mezbah itu Kudus. Jangan kotori dengan tangan yang belum pernah benar-benar dibasuh oleh pertobatan sejati. (Pem/Red/***)










