EDITORIAL, Sulut Boxing Glory Is Back, Dedikasi Untuk Legenda yang Membuka Jalan Dengan Keringat Darah

Oleh: Pemberian Manumbalang – Pemimpin Redaksi

Lambetura24.com– Ada pemimpin yang datang dengan tepuk tangan. Ada yang datang dengan peluh.

Hendra Jacob memilih yang kedua.

Tiga bulan ia memimpin Pertina Sulawesi Utara. Bukan waktu yang panjang. Terlalu singkat untuk sebuah istana, tapi ternyata sangat cukup untuk mengembalikan sesuatu yang jauh lebih mahal dari istana: harga diri.

Sulut adalah tanah petinju. Kita tidak pernah kekurangan jagoan. Kita hanya pernah kehilangan arah.

Kita pernah memiliki masa di mana nama Manado, Minahasa, Sangihe, dan Bolaang Mongondow adalah gertakan paling menakutkan di atas ring nasional. Pukulan mereka bukan sekadar pukulan. Itu adalah identitas. Itu adalah cara orang Nyiur Melambai berkata kepada Indonesia: kami ada.

Lalu senyap itu datang. Sasana-sasana berdebu. Sarung tinju tergantung tanpa pemilik. Kisah-kisah hebat itu hanya menjadi dongeng di warung kopi tua.

Hari ini, kita wajib menyebut nama mereka kembali — bukan sebagai nostalgia, tapi sebagai penghormatan. Sebagai fondasi dari apa yang sedang dibangun kembali oleh Hendra Jacob.

Mereka Adalah Jalan Yang Dibuka Dengan Darah Dan Keringat 

1. Adrianus Taroreh (Joppy) – Manado
Anak Manado yang menggetarkan Asia. Perak Asian Games 1986, Raja kelas ringan OPBF, dan manusia Indonesia yang berani menatap langsung sabuk dunia WBA. Ia mengajarkan bahwa anak Manado bisa berdiri sejajar dengan dunia.

2. Bonyx Saweho – Manado
Emas SEA Games 2002, dan satu-satunya yang membawa Merah Putih dari Sulut ke Olimpiade Athena 2004. Ia adalah bukti bahwa dari ring kecil di Manado, kita bisa sampai ke panggung terbesar di muka bumi.

3. Boy Kelung – Sulawesi Utara
Singa ring era 80-an. Juara Nasional versi KTI yang pukulan hook-nya melegenda. Ia adalah simbol ketangguhan petinju Sulut yang tidak pernah mundur selangkah.

4. Jootje Mada – Sulawesi Utara
Emas SEA Games, Juara Asia Pasifik OPBF, penantang dunia WBA. Namanya adalah kurikulum. Setiap jab-nya adalah pelajaran tentang kehormatan.

5. Rivo “El Matador” Rengkung – Tomohon
Matador dari Tomohon. Petinju profesional yang membuktikan bahwa Sulut tidak pernah kehabisan taring di kancah profesional.

Kepada lima nama besar inilah, Hendra Jacob berhutang — dan kepada merekalah, kerja kerasnya hari ini adalah sebuah dedikasi.

Kemudian Datang Jawaban Itu 

Pluit Village Mall, Jakarta. Kejurnas Piala Menko Infrastruktur. 35 provinsi datang dengan ambisi yang sama.

Sulut datang tidak untuk meramaikan. Sulut datang untuk merebut kembali apa yang pernah menjadi miliknya.

Dan langit Jakarta menjadi saksi:

Elias Junior menang. Andreas Sanadi menang. Yehuda Mozez menang. Ropit Engkeng menang. Frilo Sumampouw menang.

Lima kemenangan dalam satu hari. Sepuluh atlet menjejak semifinal.

Bagi kami ini bukan angka. Ini adalah air mata pelatih yang akhirnya terbayar. Ini adalah peluh anak-anak muda dari kampung yang akhirnya didengar Indonesia.

Apa yang dilakukan Hendra Jacob dalam tiga bulan ini adalah pelajaran kepemimpinan yang lugas:

Ia tidak sibuk membangun citra di podium. Ia sibuk membangun kepercayaan di sasana.
Ia tidak mengumpulkan massa. Ia mengumpulkan harapan.
Ia paham, Pertina bukan soal kursi ketua. Pertina adalah soal keberanian untuk kembali percaya pada darah petinju sendiri.

Seperti yang dikatakan Menko AHY, bahwa tinju bukan hanya soal siapa paling keras memukul. Tinju adalah tentang disiplin, karakter, ketangguhan, dan kehormatan.

Empat hal itulah yang selama tiga bulan ini ditanamkan Hendra Jacob. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan kehadiran.

Belum ada medali emas yang dikalungkan.

Final pada 25 Oktober adalah pertarungan hidup dan mati. Tapi satu hal telah selesai dan tidak bisa dibantah siapa pun bahwa Di bawah Hendra Jacob, tinju Sulut sudah tidak lagi berjalan dengan kepala tertunduk. Ia sudah kembali menatap lawannya, tepat di bola matanya.

Jika tiga bulan bisa membuat Sulut kembali ditakuti, bayangkan apa yang akan terjadi dalam tiga tahun.

Ini adalah dedikasi untuk Pertina Sulut
Ini adalah penghormatan untuk para legenda yang telah membuka jalan.
Dan ini adalah apresiasi paling tulus untuk sang pemulih.

Hormat kami, Hendra Jacob.
Sang Naga Hitam — Sang Pemulih Detak Jantung Tinju Sulut. SULUT BOXING GLORY IS BACK. (Pem/Red*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *