Untuk KPU Kepulauan Talaud – Penjaga Demokrasi di Tapal Batas
Talaud, LAMBETURAH24.COM, — Jika Manado adalah jantung, maka Talaud adalah detak paling ujung yang menjaga Indonesia tetap berdenyut.
Di sanalah, di antara angin Pasifik dan ombak yang tak pernah tidur, ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi. Mereka bukan pejabat dengan karpet merah. Mereka adalah penjaga demokrasi di perbatasan.
Selasa pagi, 28 Oktober 2026 pukul 07.30 WITA, api kecil menyala di belakang Kantor KPU Kepulauan Talaud. Api melahap gudang logistik — Surat Suara Pilkada 2024, kotak kardus, sampul, formulir, kontainer plastik, Formulir C-Hasil. Api yang lahir bukan dari niat, melainkan dari keterbatasan.
Lalu dengan mudahnya kita menghakimi dari layar ponsel: “Gudang sampah”, “kelalaian berat”. Padahal kita tidak pernah melihat bagaimana mereka bekerja.
Kita Lupa, Mereka Bekerja di Ujung yang Kita Lupa
KPU Talaud bukan KPU di kota besar dengan gedung ber-AC sentral dan sistem hydrant otomatis. Mereka bekerja di daerah perbatasan, di mana satu ember air pun harus diangkut, di mana mobil pemadam harus dipinjam dari PDAM, di mana pegawai kantor sebelah harus berlari bersama memadamkan api dengan tangan kosong.
Seperti laporan resmi yang ditulis Sekretaris KPU Takaud, Nelwan Maloring, S,H.,M.H yang berhasil dirangkum Redaksi Lambeturah24.com, bahwa sekira Pukul 07.30 Wita api terlihat.
Pukul 08.00 Wita koordinasi dilakukan, dan dengan alat seadanya, api berhasil dijinakkan. Itu bukan kelalaian. Itu adalah kegigihan.
Bupati dan Polres Talaud turun langsung. Tim Tanggap Darurat dibentuk. Ketua KPU Andri Sumolang Bersama Komisioner lain dan Sekretaris KPU Nelwan Maloring berdiri di tengah puing, mendampingi tim Polres melakukan pendalaman. Bukan lari. Bukan sembunyi. Ia berdiri di sana, menjaga sisa-sisa dokumen negara dengan tubuhnya sendiri.
Apakah itu wajah orang yang ingin menghilangkan jejak? Atau wajah orang yang terluka karena rumah pengabdiannya terbakar?
Objek Vital Dijaga dengan Hati, Bukan Hanya Anggaran
Ya, KPU adalah objek vital negara. Tapi objek vital di perbatasan tidak dijaga dengan kemewahan anggaran pusat. Ia dijaga dengan dedikasi.
Logistik Pemilu 2024 yang terbakar itu adalah logistik yang telah selesai mengantarkan suara rakyat Talaud hingga ke Senayan. Kotak kardus itu pernah berlayar melewati badai.
Formulir C-Hasil itu pernah ditulis di bawah lampu petromaks di pulau terluar. Mereka bukan sampah. Mereka adalah jejak sejarah demokrasi yang belum sempat diarsipkan dengan layak karena keterbatasan gudang.
Maka sebelum kita menuduh ada yang ingin menghilangkan jejak keuangan, tanyakan dulu: Pernahkah kita memberi mereka jejak anggaran yang layak untuk membangun gudang arsip yang aman?
Jangan Bakar Kepercayaan, Saat Mereka Masih Menjaga Perbatasan
Isu pendalaman anggaran oleh APH adalah proses hukum yang harus kita hormati. Tapi jangan jadikan setiap musibah sebagai panggung konspirasi. Jangan jadikan api kecil di Talaud sebagai kayu bakar untuk membakar kepercayaan publik.
“Jika ada yang salah, biarlah Polisi bekerja. Polres Talaud sudah di TKP. Biarlah BPK dan Inspektorat audit. Tapi jangan hancurkan semangat orang-orang yang selama ini menjaga Pemilu di tempat di mana sinyal saja susah, apalagi keadilan”. Ujar Sekretaris KPU Nelwan Maloring, SH.MH kepada Redaksi
Hari ini gudang mereka terbakar. Tapi dedikasi mereka tidak.
Mari kita kirim doa bukan hanya tuntutan, tapi juga empati. Karena jika Talaud berhenti menjaga demokrasi, siapa yang akan menjaga kita di beranda utara? Api telah padam. Namun Pengabdian tetap menyala.
Manado, 28 Oktober 2026
Pimpinan Redaksi
Pemberian Manumbalang










