LambeTurah24. MANADO – Kepedulian terhadap masa depan generasi muda tak cukup hanya dengan imbauan. Dibutuhkan langkah nyata, kolaborasi, dan keberanian mencari solusi. Semangat inilah yang ditunjukkan Kapolresta Manado Kombes Pol Irham Halid, S.I.K., melalui program Polisi Peduli Pengangguran (Poliran) dengan merangkul pemerintah, tokoh pemuda, hingga komunitas masyarakat untuk membedah persoalan pengangguran di Kota Manado.
Bertempat di kawasan Jalan Roda, Manado, Kamis (29/10/2026), diskusi tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi lintas sektor guna membuka akses lapangan pekerjaan, meningkatkan keterampilan pencari kerja, serta mendorong generasi muda agar memiliki kesempatan lebih luas untuk menata masa depan.
Bukan sekadar pertemuan seremonial, program Poliran diarahkan menjadi gerakan kolaboratif yang menyentuh langsung persoalan masyarakat. Kepolisian bersama Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Manado, tokoh pemuda, dan komunitas masyarakat mulai membangun langkah konkret untuk menjembatani warga yang belum bekerja dengan peluang kerja yang tersedia.
Dalam kegiatan tersebut, Kombes Pol Irham Halid didampingi Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Manado Fadly Kasim, Kasat Binmas AKP Sonny Soputan, Kapolsek Wenang AKP Dr. H. R. F. Sabaja, S.H., M.H., serta Kasi Humas Iptu Agus Haryono, S.M. Diskusi itu turut dihadiri tokoh pemuda, tokoh masyarakat, komunitas Jalan Roda, dan jajaran staf Disnaker Kota Manado.
Persoalan pengangguran menjadi salah satu tantangan yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Berdasarkan data ketenagakerjaan yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, Kota Manado memiliki 359.983 penduduk usia kerja, dengan 232.680 orang masuk dalam kategori angkatan kerja.
Dari jumlah angkatan kerja itu, sebanyak 212.882 orang telah bekerja, sementara 19.798 orang masih berstatus pengangguran.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Manado tercatat sebesar 8,51 persen. Angka tersebut turun 0,22 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Meski menunjukkan perkembangan positif, data ini menjadi pengingat bahwa masih diperlukan upaya lebih kuat untuk memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Sementara itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) mencapai 64,64 persen, meningkat 1,47 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan semakin banyak penduduk usia kerja yang terlibat dalam aktivitas ekonomi, sekaligus mempertegas pentingnya ketersediaan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja secara optimal.
Melalui program Poliran, upaya penanganan pengangguran didorong agar tidak berhenti pada diskusi. Langkah yang menjadi perhatian meliputi pendataan warga yang belum bekerja, pemetaan kebutuhan tenaga kerja, identifikasi peluang kerja, hingga penyebaran informasi lowongan yang dapat diakses masyarakat.
Kolaborasi dengan perusahaan swasta dan Balai Latihan Kerja (BLK) juga dipandang penting untuk mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kemampuan para pencari kerja. Melalui pelatihan yang tepat sasaran, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh informasi mengenai peluang kerja, tetapi juga memiliki keterampilan dan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri maupun sektor usaha lainnya.
Di sisi lain, keterlibatan tokoh pemuda dan komunitas masyarakat dinilai strategis untuk menjangkau warga yang belum terserap dalam dunia kerja. Mereka diharapkan ikut membantu mengidentifikasi potensi masyarakat, menyampaikan informasi kesempatan kerja, serta menghubungkan pencari kerja dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja.
Polri hadir, membangun kepedulian sosial Inisiatif ini memperlihatkan bahwa peran kepolisian di tengah masyarakat tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Melalui pendekatan sosial dan komunikasi langsung, Polri juga dapat menjadi penggerak kolaborasi dalam mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Program Polisi Peduli Pengangguran diharapkan mampu membangun kerja sama berkelanjutan antara kepolisian, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan elemen masyarakat. Harapannya, semakin banyak warga Kota Manado mendapatkan akses terhadap pekerjaan, meningkatkan keterampilan, memperkuat ekonomi keluarga, serta memiliki peluang lebih baik untuk meraih masa depan.
Melalui Poliran, semangat yang ingin dibangun jelas: persoalan pengangguran tidak bisa diselesaikan sendirian. Dibutuhkan kepedulian, kerja sama, dan langkah nyata agar peluang kerja semakin terbuka bagi masyarakat Kota Manado. (Pra)














