Catataan Kritis, Penegakan Hukum Yang Terkesan Lemah
Laambeturah24.com– Sindikat sianida lintas negara disinyalir kembali membobol pertahanan negara melalui kepulauan Sangihe. Setelah sebelumnya 3 ton diduga sianida lolos di Sitaro pada Mei 2026.
Kini 15 karung diduga sianida seberat 750 kilogram kembali masuk melalui jalur laut dari Filipina ke perairan Tinakareng, Kampung Nanedakele, Kecamatan Bukide, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Minggu (1/11/2026).
Pumpboat yang mengangkut puluhan karung itu berangkat dari General Santos City, Filipina, Sabtu (31/10/2026) malam, dan hanya butuh 14 jam untuk sampai ke Sangihe. Di atas perahu, karung-karung itu disebut sebagai “pupuk pisang”.
Mari kita jujur, tanpa bermaksud merendahkan kerja polisi di lapangan, karena Polsubsektor Bukide justru patut dipuji sudah berpatroli dan mengamankan perahu itu, namun kita harus bertanya dengan tajam:
Kenapa setiap kali ada penemuan besar, selalu diawali kata “kebetulan patroli”?
Pada Mei 2026 di Sitaro, 3 ton diduga sianida baru ketahuan setelah ada ABK yang meninggal dunia di atas perahu.
Pada November 2026 di Sangihe, 15 karung diduga sianida — total 750 kilo — baru ketahuan setelah patroli rutin mencurigai sebuah Pumpboat.
Pertanyaannya: Berapa karung yang TIDAK ketahuan?
Jika penegakan hukum hanya menunggu kebetulan, maka hukum kita terkesan lemah bukan karena polisinya tidak bekerja, tapi karena sistemnya tidak dibangun untuk mencegah.
Kita selalu hebat dalam menangkap, tapi selalu terlambat dalam menjaga.
Dan sampai hari ini, publik belum pernah mendengar siapa dalang besar di balik sianida ini yang dihukum berat.
Yang ditangkap selalu Nakhoda dan ABK. Yang disebut selalu “atasan” dan “Seseorang berinisial Arki”.
Tapi siapa atasan itu? Siapa pemilik modalnya? Siapa penerima di darat yang menunggu 750 kilo racun itu?
Kalau hanya kurirnya yang ditangkap, maka sindikat akan tertawa. Karena kurir bisa diganti besok pagi. Modalnya tetap aman.
Perjalanan Sindikat Mafia Sianida, Dari General Santos Ke Sangihe
Mari kita urutkan secara lugas, agar publik paham betapa rapi sindikat ini bekerja :
Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 20.00 waktu setempat. Sebuah Pumpboat bertolak dari General Santos City, Filipina. Di atasnya, 15 karung yang disebut “pupuk pisang”.
Minggu, 1 November 2026, pukul 10.00 Wita. Perahu tiba di perairan Tinakareng, Kampung Nanedakele, Sangihe. Hanya 14 jam perjalanan laut. Dekat sekali. Sedekat tetangga antar pulau.
Pukul 11.00 Wita. Polsubsektor Bukide patroli dan mencurigai perahu itu. Dua WNA diamankan: BJK (44) selaku nakhoda, dan PDS (65). Keduanya mengaku warga General Santos City.
Pengakuan nakhoda: Dia mengaku tidak tahu isi karung. Dia mengaku hanya menjalankan perintah atasan.
Dia mengaku diperintahkan menghubungi seseorang berinisial Arki setelah tiba. Ini bukan perjalanan orang tersesat. Ini perjalanan yang direncanakan.
Ada yang memuat di Filipina. Ada yang mengantar di laut. Ada yang menunggu di darat. Ada yang memberi perintah lewat telepon.
Ini adalah rantai sindikat lintas negara. Dan Sangihe hanya jadi pintu masuknya.
Tujuan akhirnya diduga adalah tambang-tambang emas ilegal di Sulawesi Utara, tempat sianida dipakai untuk mengolah emas dengan cara yang meracuni sungai, meracuni ikan, dan meracuni manusia.
Sianida itu bukan pupuk. Sianida itu racun yang bisa membunuh dalam hitungan menit. Dan 750 kilo itu cukup untuk meracuni satu kabupaten.
Gerbang Perbatasan Kita Rapuh, Kerap Bobol
Sangihe, Talaud dan Sitaro adalah beranda depan Indonesia. Dari sini, kita bisa melihat Filipina. Tapi sayangnya, beranda ini tidak punya pagar yang kuat.
Laut kita luas, petugas kita sedikit, kapal patroli kita terbatas, radar kita tidak menjangkau semua celah.
Sementara sindikat punya GPS, punya telepon satelit, punya uang, dan punya informasi kapan petugas patroli dan kapan tidak.
Maka jangan heran jika jalur ini kerap bobol.
Mei 2026 bobol 3 ton. November 2026 bobol lagi 750 kilo. Ini bukan lagi kecelakaan. Ini sudah pola.
Kita tidak bisa terus menyalahkan cuaca, luas laut, atau kurang anggaran.
Karena jika gerbang perbatasan terus rapuh, maka yang masuk bukan hanya sianida. Besok bisa narkoba. Besok bisa senjata. Besok bisa manusia yang diperdagangkan.
Perbatasan yang rapuh adalah undangan terbuka bagi semua kejahatan lintas Negara.
Dan yang paling menyedihkan adalah Masyarakat di Nanedakele, di Bukide, di Tinakareng, mereka yang tinggal di garis depan, yang paling pertama merasakan racunnya, tapi justru paling terakhir merasakan perlindungan negara.
Untuk Pemerintah Pusat, Mohon Turun Tangan!
Untuk pemerintah pusat izinkan kami menulis dengan hati. Karena kami masih percaya pemerintah pusat mencintai Nusa Utara seperti mencintai Jakarta.
Wahai Pemerintah Pusat,
Kami di ujung utara ini tidak meminta istana. Kami hanya meminta agar pintu rumah kita dijaga.
Sangihe, Talaud dan Sitaro itu indah. Lautnya biru, pasirnya putih, orangnya ramah.
Tapi di balik keindahan itu, kami setiap malam tidur dengan rasa was-was: perahu apa lagi yang akan merapat malam ini tanpa diketahui?
Kami tahu Jakarta jauh. Kami tahu rapat di Jakarta banyak. Kami tahu anggaran negara harus dibagi untuk 38 provinsi.
Tapi izinkan kami bertanya ?
Untuk apa kita membangun Ibu Kota baru yang megah, jika beranda depan rumah kita masih berlubang?
Untuk apa kita bicara tentang kedaulatan, jika 750 kilo barang diduga racun bisa masuk hanya dengan sebuah Pumpboat dan selembar alasan “pupuk pisang”?
Untuk apa kita bangga dengan satelit, jika di laut Sangihe kita masih mengandalkan mata telanjang petugas yang patroli dengan perahu kecil?
Kami tidak marah. Kami hanya rindu diperhatikan.
Turunlah tangan ke Sangihe. Bukan hanya dengan kunjungan seremonial dan foto bersama.
Tapi dengan kapal patroli yang cukup, dengan pos pengawasan yang hidup 24 jam, dengan laboratorium cepat untuk menguji sianida, dan dengan hukuman yang membuat dalang sindikat berpikir seribu kali sebelum mengirim karung berikutnya.
Karena Sangihe, Talud dan Sitaro bukan halaman belakang Indonesia. Sangihe adalah wajah Indonesia di hadapan Filipina dan dunia.
Jika wajah itu dibiarkan bobol, maka seluruh tubuh bangsa akan malu.
15 karung itu sudah diamankan. Dua WNA sudah di tangkap. Dan keduanya tetap berhak atas asas praduga tak bersalah hingga pengadilan memutuskan.
Tapi tugas kita belum selesai
Tugas kita adalah memastikan karung ke-16, ke-100, ke-1000 tidak pernah sampai lagi.
Tugas kita adalah memastikan Arki yang disebut-sebut itu bukan hanya inisial yang hilang di laporan polisi, tapi benar-benar dicari sampai ketemu.
Tugas kita adalah memastikan Sangihe tidak lagi menjadi berita karena racunnya, tapi karena keindahan dan kedaulatannya yang terjaga.
Tuhan, jaga Sangihe kami. Jaga polisi kami yang patroli dengan keterbatasan. Jaga rakyat kami yang tinggal di perbatasan. Dan semoga Jakarta mendengar suara dari ujung utara ini.
Oleh Pemberian Manumbalang, Pemimpin Redaksi Lambeturah24.com| Dari Sulut Ke Nusantara|








