Dari Belantara Politik Ke Jantung Tradisi, Memahami Sosok Kristian Bastian Aesong, S.Pd, Cicit Sang Misionaris

Penulis : Pemberian Manumbalang
Dari Belantara Politik Ke Jantung Tradisi adalah catatan kecil dari sebuah refleksi perjalanan seorang Tokoh Adat Talaud, Kristian Bastian Aesong, S.Pd.
Histori, Lambeturah– Kepekaan sosial dimulai dari kerendahan hati untuk sadar bahwa kita semua sama-sama memiliki batas dan cela, ibarat pepatah tak ada gading yang tak retak karena kebahagiaan seseorang terletak dari bagaimana caranya memaknai hidup setelah itu mendedikasikannya buat  orang lain.

Deskripsi ini langsung tergambar saat Penulis menelisik dalam sebuah wawancara tentang perjalan hidup dari  sosok Kristian Bastian Aesong, S.Pd (KBA) Tokoh Adat  dari Tanah Toade yang kini menjabat sebagai Ratumbanua Bitunuris.

Kristian Bastian Aesong atau yang lebih akrab disapa KBA adalah seorang praktisi  yang sudah puluhan tahun malang melintang di belantara politik, sebuah lingkungan yang rumit, penuh intrik dan kompetitif serta membingungkan, bahkan kadang letupannya begitu keras dan sarat dengan kontroversi.

Ia dibesarkan dalam keluarga yang sangat memahami tatanan adat membuatnya tetap respek dan berkomitmen untuk merawat jantung tradisi dengan mengedepankan empati sosial

KBA merupakan Putra terkasih dari Benyamin Aesong yang merupakan salah satu tokoh adat yang disegani di Tanah Porodisa sekaligus mantan Anggota DPRD kabupaten kepulauan Talaud.

Sementara dari garis keturunan Ibu Rosrisna Tatoda, KBA merupakan cicit dari seorang tokoh besar Agama Nasrani di Talaud dimana Desterina Ughude yang merupakan nenek tercinta dari KBA merupakan putri terkasih seorang Misionaris asal Belanda.

Kepada Penulis, Pria kelahiran Bitunuris 14 September 1974 silam mengungkapkan bahwa menjaga jantung tradisi tidak hanya dilakukan di permukaan atau sebagai tontonan, melainkan dipahami sebagai tuntunan dalam nilai luhur budaya.

“Jantung Tradisi Merupakan simbol tempat perlindungan moral dan spiritual. Ketika sistem modern dirasa terlalu bising atau korup, ada gerakan atau kesadaran untuk kembali ke adat”. Ungkap Ketua Presidium Masyarakat Adat Talaud tersebut.

Sebagai tokoh adat yang terjun ke panggung politik KBA berapa menyadari resiko dari imbas perpaduan dua dunia yang berbeda yaitu politik dan adat.

“Memadukan Politik dan Adat itu ibarat menempatkan Air dan Api dalam satu wadah, terdengar mustahil namun dari sanalah kebijaksanaan seorang tokoh dapat diukur, sejauh mana dia menjadi seorang panutan”. Ungkap Ketua OKK sekaligus Plh. Sekretaris Partai Golkar kabupaten kepulauan Talaud.

Ketika disentil adanya kemungkinan perbedaan persepsi dari peran pengabdiannya sebaagai tokoh adat yang terjun ke panggung politik? Ratumbanua Desa Bitunuris dan Bitunuris Selatan menanggapinya dengan bijak dan diplomatis.

“Pendapat orang lain tentangmu bukanlah penentu masa depanmu. Tetaplah melangkah meski berjalan seorang diri karena Terkadang, dikucilkan oleh lingkungan yang salah adalah cara semesta menyelamatkanmu dari jalan yang keliru.” Ujar KBA.

KBA juga memberikan wejangan kepada penulis untuk tekun dan tak gentar melangkah saat dalam kebenaran.

“Jangan gentar saat ada yang  menjauh, ingat Elang terbang sendirian, sementara burung kecil bergerombol, jangan patah semangat saat kehidupan ini tak berjalan seperti rencanamu, ingatlah hidupmu ada untuk menggenapi rencana Tuhan bukan sebaliknya”. Pungkas KBA.

Aldo Pumpodong salah satu Jurnalis asal Nusa Utara (Talaud,Sangihe, Sitaro) kepada penulis perna memberikan Testimoni tentang ketokohan seorang KBA. Menurutnya KBA adalah sosok unik dan eksentrik namun dibalik semua itu, Ia memiliki kepribadian yang luar biasa.

“KBA adalah sosok yang berwatak keras dalam mempertahankan kehormatan namun lembut dalam sisi humanis, sserta mampu membagi peran dalam ruang ruang kemanusiaan”. Tegas Redaktur dari salah satu Media di Sulawesi Utara.

Testimoni yang nyaris sama juga diungkapkan oleh Mariana, seorang Ibu dari desa Rarange kecamatan kabaruan.

Menurut Mariana KBA adalah sosok yang selalu iklas dalam meringankan beban sesama, hatinya selalu terpancar rasa empati atas penderitaan orang lain.

“Terlepas dalam kepentingan apapun, Sosok KBA perna membantu keluarga kami saat anak kami dirawat di rumah sakit, dia begitu peduli meski saat itu kami tak begitu mengenalnya”. Pungkas Ibu Mariana mengenang.

Berikut catatan Sisi kemanusiaan yang tercermin dari sikap seorang KBA, tokoh adat yang berakar dari nilai nilai luhur, kepedulian sosial, dan perannya sebagai pelindung komunitas :

  • Penjaga Kedamaian dan Harmoni (Fasilitator Konflik): Tokoh adat sering kali bertindak sebagai mediator yang bijaksana ketika terjadi perselisihan antar warga. Mereka mengutamakan dialog, pemulihan hubungan (restorasi), dan keadilan yang humanis daripada sekadar memberikan hukuman.
  • Empati dan Kepedulian Sosial yang Tinggi: Menjadi tempat mengadu bagi warga yang mengalami kesulitan, baik secara ekonomi, sosial, maupun emosional. Tokoh adat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada anggotanya yang telantar.
  • Pelestari Martabat dan Nilai Manusia: Melalui tradisi, tokoh adat mengajarkan tata krama, rasa hormat kepada orang tua, cara menghargai sesama, serta bagaimana menjaga hubungan baik dengan alam. Ini adalah bentuk pemuliaan terhadap eksistensi manusia itu sendiri.
  • Pengayom Tanpa Membeda-bedakan: Seorang tokoh adat yang sejati memandang semua warga komunitasnya sebagai bagian dari satu keluarga besar (ikatan persaudaraan). Mereka memberikan perlindungan dan rasa aman kepada siapa saja yang membutuhkan, tanpa memandang status sosial.
  • Ketulusan Berkorban (Altruisme): Peran sebagai tokoh adat wajib dijalankan sebagai bentuk pengabdian, bukan untuk mencari keuntungan materi atau kekuasaan politik. Waktu, pikiran, dan terkadang materi pribadi mereka korbankan demi kesejahteraan bersama. (Pem/Red***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed