Sulawesi Utara, Lambe Turah 24– Di negeri ini, orang sudah terlalu sering kecewa pada seragam. Seragam yang seharusnya melindungi, kadang justru menakuti. Seragam yang seharusnya menjaga keadilan, kadang justru menjaga kepentingan.
Tapi tidak untuk satu nama ini: Emnovri H. Pansariang, S.H.
Jaksa muda kelahiran Kepulauan Sangihe ini mengingatkan kita pada satu hal yang hampir kita lupakan: bahwa di dalam seragam Kejaksaan yang gagah itu, masih ada hati manusia yang hidup.
Hari ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan.
Sebuah jabatan yang tidak main-main. Di sanalah tempat para perampok uang negara diseret, dilucuti, dan dimiskinkan. Pidsus itu bukan kerja foto-foto. Kerjanya senyap, tapi mematikan bagi koruptor:
Dari Lidik — mengendus apakah ada bau busuk korupsi.
Ke Sidik — mengumpulkan bukti, memeriksa saksi, menyita, dan melacak aset yang disembunyikan.
Ke Tuntut — menyusun dakwaan dan bertarung di sidang, mempertaruhkan kehormatan lembaga.
Sampai ke Eksekusi — memastikan uang rakyat yang digarong, benar-benar kembali ke negara.
Banyak jaksa tumbang di jalan ini. Ada yang tergoda, ada yang lelah, ada yang lupa sumpahnya.
Emnovri tidak.
Dalam wawancara khusus dengan Redaksi, Rabu (17/10/2026), ia berkata dengan kalimat yang seharusnya dicatat oleh setiap jaksa di Indonesia:
“Seorang Jaksa yang mengedepankan nurani dan menjunjung integritas, wajib menjadikan Satya Adhi Wicaksana sebagai pedoman hidup untuk melayani masyarakat dan negara, bukan hanya sebatas slogan.”
Dengarkan baik-baik, Kata itu Bukan hanya sebatas slogan.
Karena di zaman ini, terlalu banyak slogan ditempel di dinding kantor, tapi tidak pernah ditempel di dada.
Emnovri pernah mengabdi di Tanah Porodisa, Kepulauan Talaud. Di ujung utara Indonesia, di tempat yang jauh dari sorot kamera nasional, ia bekerja dalam sunyi. Tapi justru di tempat sunyilah, karakter seseorang diuji.
Dan ia lulus!.
Hariono Bowonseet, Tokoh Nusa Utara, mantan Anggota DPRD Talaud, masih mengingatnya dengan jelas:
“Meski sudah pindah tugas karena panggilan negara, publik di Tanah Porodisa sampai hari ini masih mendambakan sosok Emnovri. Dia humanis, santun, elegan. Dia memperlakukan masyarakat bukan sebagai angka perkara, tapi sebagai manusia.”
Itu kesaksian yang mahal. Karena hormat dari rakyat kecil, tidak bisa dibeli dengan pangkat.
Christian Pratasik, jurnalis senior Sulut, menutup kesaksian itu dengan satu kalimat yang menjadi judul kita hari ini:
“Ia terlihat beringas saat menerkam para koruptor yang menggarong uang negara, namun santun, elegan dan peduli terhadap rakyat kecil.”
Beringas kepada koruptor. Santun kepada rakyat.
Itulah rumus jaksa yang dirindukan republik ini.
Di saat banyak aparat penegak hukum membangun tembok tinggi dengan rakyat, Emnovri membangun jembatan.
Ia tidak hanya menuntut. Ia mendampingi. Ia tidak hanya menghukum. Ia memulihkan kepercayaan publik bahwa kejaksaan masih ada untuk rakyat.
Tulisan ini kami buat bukan karena ia meminta, Tulisan ini kami buat karena kami malu jika kami diam.
Di saat banyak media sibuk memuji yang membayar, kami memilih memuliakan yang mengabdi.
Terima kasih, Jaksa Emnovri H. Pansariang. Terima kasih telah menjaga agar di Tanah Toar-Lumimuut, dari Sangihe, Talaud, hingga Minahasa Selatan, keadilan masih punya wajah yang berani tapi tidak menakutkan.
Tetaplah menjadi jaksa yang beringas kepada yang merampok negara, dan santun kepada yang mencari keadilan. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar hukum. Negeri ini hanya kekurangan orang yang menjadikan hukum sebagai jalan hidup, “Satya Adhi Wicaksana”. (Pem/Red)








