LambeTurah24.com – Di Pelabuhan Manado, tempat ombak dan rindu selalu bertemu, ada sebuah kebijakan yang sempat membuat resah: Sterilisasi Pelabuhan.
Kebijakan yang niatnya menata, sempat dimaknai sebagai sekat yang memutus tradisi kita mengantar orang-orang tercinta hingga ke bibir dermaga, bahkan sampai ke atas kapal.
Keresahan itu wajar. Karena bagi kita orang Nusa Utara, mengantar bukan sekadar melepas. Itu adalah doa yang diucapkan pelan-pelan di tepi laut, sebelum kapal menarik jangkar.
Namun dari keresahan itu, lahirlah sesuatu yang lebih indah: dialog.
Suara dari Ketua Presidium Adat Talaud Nusantara. – Tokoh Adat, yang merupakan Ratumbanua Bitunuris, Kristian Bastian Aesong, S.Pd, yang akrab disapa KBA, yang memilih jalan paling santun dari seorang Tokoh yaitu duduk bersama, berbicara dengan hati.
Dengan suara yang santun dan rendah hati, KBA menghimbau seluruh masyarakat Nusa Utara, khususnya di Kabupaten Kepulauan Talaud: “Mari torang jaga mulut, jaga hati. Jelang Natal dan Tahun Baru ini, torang sambut kebijakan ini dengan pikiran yang jernih, tanpa tendensi. Mari mengedepankan komunikasi yang santun dan bermartabat.”
KBA bercerita, dulunya ia pun apriori. Ia pun keberatan. Tapi setelah ia duduk berdialog secara terbuka dengan Pelindo, ia mengerti.
Ternyata sterilisasi bukan untuk membatasi tradisi. Bukan untuk melarang kita mengantar saudara sampai ke kapal.
“Kan terbukti kemarin. Seorang penumpang penyandang disabilitas yang akan berangkat dengan KM. Express Cantika Lestari ke Talaud, dia diantar saudaranya sampai di atas kapal. Tidak ada yang dilarang. Jadi yang kita takutkan, kemarin itu hanya miskomunikasi saja,” tutur KBA lirih, namun jelas.
Ia tidak menerima kebijakan ini dengan mata tertutup. Ia menerimanya setelah menimbang kepentingan orang banyak. Itulah cara adat bekerja: mendengar dulu, baru memutuskan.
Suara dari Pelabuhan – Pelindo, Dari seberang meja dialog, suara Pelindo terdengar ramah, penuh kerendahan hati.
General Manager Pelindo Regional 4 Manado, Nurlayla Arbie, tidak berbicara dengan nada kuasa. Ia berbicara seperti penjaga dermaga yang rindu dipahami.
“Terima kasih untuk masyarakat yang memilih berdialog dengan santun, ketimbang menghakimi dengan vonis yang prematur. Percayalah, di balik kebijakan sterilisasi ini, tidak ada satu pun niat untuk menyusahkan masyarakat. Tidak ada.”
“Yang ada hanyalah niat untuk menjaga. Agar setiap langkah di pelabuhan ini aman. Agar setiap ibu yang menggendong anak, setiap orang tua yang bertongkat, setiap kita yang akan menyeberang laut, bisa berangkat dengan selamat, nyaman, dan selamat.
Pelabuhan ini bukan milik kami, ini rumah kita bersama.”Kata-katanya sederhana, tapi mengharukan. Karena pelabuhan memang seharusnya menjadi rumah, bukan gerbang yang menakutkan.
Suara Lugas dari Bhayangkara – Kepolisian menjaga dan mengamankan agar rumah bersama itu tetap aman, datanglah suara yang lugas, tegas, namun mengayomi dari Kapolresta Manado, Kombes Pol. Irham Halid, S.I.K.
Tanpa banyak kata, ia turun langsung. Ia meninjau pintu masuk, pintu keluar, hingga jalur sterilisasi penumpang, didampingi Kabag Ops Kompol Coustantein Samuri, Kasat Reskrim Kompol Elwin Kristanto, dan Kapolsek Pelabuhan Ipda Christian Anton Langi.Bahasa polisi memang lugas:
“Kita ingin memastikan tidak ada kendala saat masa puncak Nataru tiba. Jika ada yang perlu diperbaiki, kita selesaikan dari sekarang. Keamanan penumpang adalah prioritas.
“Tidak ada janji berlebihan. Hanya kerja nyata. Sinergi dengan Pelindo, KSOP, dan semua pemangku kepentingan, agar Natal dan Tahun Baru 2026-2027 bisa dilalui dengan tenang.
Untuk Kita Semua Akhirnya, cerita tentang sterilisasi Pelabuhan Manado ini bukan cerita tentang larangan. Ini cerita tentang bagaimana kita merawat kebersamaan.
Adat mengajarkan kita santun. Pelabuhan mengajarkan kita merawat. Polisi mengajarkan kita menjaga.
Mari kita ikuti kebijakan ini bukan karena takut, tapi karena kita saling menjaga. Agar ketika KM. Cantika Lestari kembali membelah laut menuju Talaud, Sangihe, dan Sitaro, yang berangkat adalah doa-doa yang aman, dan yang tinggal adalah hati yang tenang. Demi Nusa Utara yang kita cintai bersama. (Pem/Red*)








