Jakarta, LAMBETURAH24.COM- Di negeri yang sering gaduh oleh mereka yang haus panggung, kesatria sejati justru datang dengan langkah senyap.
Ia tidak berteriak tentang pengabdian, ia menjalaninya. Ia tidak memamerkan pangkat, ia merawat manusia.
Itulah Brigjen Pol. Valentino Alfa Tatareda, S.I.K.,S.H.,M.H
Jika Polri adalah jantung negara, maka Karodatin Div TIK Polri adalah detak nadinya. Di tangan dingin seorang anak Talaud berdarah Minahasa inilah, data dijaga, informasi dirawat, dan kepercayaan publik dipeluk dengan teknologi.
Jabatan paling krusial di Mabes Polri sejak 11 November 2024, namun ia emban dengan kerendahan hati seorang anak kampung perbatasan.
Mengapa Ia Begitu Dihormati Masyarakat Sulawesi Utara?
Karena ia memahami tugas paling mulia seorang Bhayangkara: merawat perasaan publik.
Banyak polisi bisa tegas. Tidak banyak yang bisa santun. Banyak jenderal bisa lugas dalam perintah, namun tidak banyak yang berhati lembut dalam merawat martabat manusia.
Briglen Pol. Valentino Alfa Tatareda adalah anomali langka itu.
Ia lahir 9 Juli 1972, Di Tondano Sulawesi Utara, bukan dari kemewahan.
Ia lahir dari doa. Dari Ayahanda Herman Tatareda, tokoh Nusa Utara berdarah Talaud asli, yang mengajarkan kerasnya hidup di pulau terluar, gerbang perbatasan NKRI, dan dari Ibunda berdarah Minahasa, yang mengajarkan bahwa kasih tidak pernah habis, bahkan untuk mereka yang membenci.
Didikan itu yang membuatnya keras menjaga prinsip, namun lembut merawat manusia.
Lihat perjalanannya: dari Kaur Binpuan SPN Sampali (1995), Kanit di Medan Baru (1996), Kapolsek Limapuluh Asahan (1997), Guru Muda Akpol (2000), Kasat Lantas Kudus, Semarang, Kabag Bin Opsnal Jatim, Kapolres Ngawi (2013), Wadir Lantas Polda Metro Jaya (2015), Dirlantas Babel, Dosen Utama STIK, Dirlantas Sumut, hingga Kapolrestabes Medan (2023).
Medan yang keras, ia jinakkan bukan dengan arogansi, tapi dengan kesantunan. Jakarta yang bising, ia hadapi bukan dengan pencitraan, tapi dengan kerja.
Inilah ksatria negara berjiwa besar: lugas dalam tugas, santun dalam sikap.
Air Mata Dari Tanah Porodisa
Ketika Pdt. Dr. Arnold Apolos Abbas, M.Th, Ketua Umum Sinode Germita, berkata dengan suara bergetar:
“Ia Bhayangkara humanis yang bijak, layak jadi panutan, yang mengedepankan kemanusiaan dengan jiwa nasionalis dalam merawat kebhinekaan,” itu bukan sekadar pujian. Itu adalah pengakuan iman dari tanah Porodisa.
Ketika Djohan Parangka, tokoh Nusa Utara, berkata dengan mata berkaca: “Lisannya selalu terpimpin dan penuh dedikasi, hatinya diliputi welas asih, taat pada Agamanya, setia pada Bangsanya, dan cinta pada Rakyat dan Sesamanya,
“Itu bukan sekadar testimoni. Itu adalah doa dari masyarakat buat seorang bhayangkara yang telah selesai dengan dirinya sendiri”.
Talaud mengajarkannya menjaga perbatasan negara. Minahasa mengajarkannya menjaga perbatasan hati.
Penghargaan Untuk Dedikasi Yang Tak Terlihat
Di era di mana banyak orang ingin terlihat hebat, Valentino memilih untuk bekerja hebat tanpa terlihat.
Ia adalah otak di balik layar Div TIK, pusat data dan teknologi informasi Polri. Ia tidak mengatur lalu lintas di jalan raya lagi, ia mengatur lalu lintas informasi untuk 280 juta rakyat Indonesia.
Jika sistem itu aman, rakyat merasa aman. Jika data itu jujur, negara terasa hadir ditengah pergumulan publik.
Itulah merawat nilai kemanusiaan di zaman digital. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan sistem yang bekerja untuk rakyat kecil di Talaud hingga di Merauke.
Untuk generasi muda Sulut, Nusa Utara, dan Talaud: Lihatlah dia.
Kehormatan tertinggi seorang Bhayangkara bukanlah bintang satu di pundak. Bukan jabatan mentereng di Mabes Polri.
Kehormatan tertinggi adalah ketika rakyat di pulau terluar, di perbatasan yang sering dilupakan, merasa dipeluk oleh negaranya sendiri karena ada anak mereka yang menjaga di pusat.
Brigjen Pol. Valentino Alfa Tatareda, S.I.K.,S.H.,M.H, telah melakukan itu.
Ia adalah bukti bahwa dari pulau terluar, bisa lahir penjaga jantung ibu kota. Dari didikan sederhana, bisa lahir jenderal berhati mulia.
Ia bukan sekadar Jenderal. Ia adalah anak Sulut berdarah Talaud yang pulang membawa nama baik. Ia adalah Bhayangkara sejati.
Hormat kami untukmu, Jenderal. Teruslah merawat Indonesia dengan kasih Minahasa dan keteguhan Talaud.
Penulis: Pemberian Manumbalang
Pemimpin Redaksi Lambeturah24.com| Dari Sulut Ke Nusantara












