SULUT, LAMBETURAH24.COM | Dari Sulut Ke Nusantara – Mandat itu akhirnya turun. Hendra Jacob, S.IP., kini memegang kunci nasib pers digital Sulawesi Utara setelah Ketua Umum DPP JMSI, Dr. Teguh Santosa, resmi menunjuknya sebagai pemegang mandat pembentukan DPD JMSI Sulut.
Ini bukan sekadar surat tugas. Ini adalah alarm keras bagi industri media siber di Sulut yang selama ini tumbuh liar, tercerai-berai, dan saling sikut dalam senyap.
Pers digital Sulut memang tumbuh pesat. Setiap hari lahir portal baru.
Tapi mari jujur: berapa banyak yang benar-benar menjalankan fungsi pers? Berapa banyak yang punya redaksi, punya PT, punya wartawan yang digaji layak, dan punya keberanian untuk verifikasi? Di tengah banjir informasi, justru kredibilitas yang paling mahal dan paling langka.
Hendra Jacob tidak sedang ditugaskan menyusun struktur organisasi. Ia sedang ditugaskan membangun kembali kepercayaan.
Tugasnya lugas tapi berat: mendatangi satu per satu pemilik media, pimpinan redaksi, dan pengelola media siber.
Bukan untuk mengumpulkan tanda tangan dukungan, tapi untuk menanyakan satu pertanyaan paling menyentuh: Masihkah kita mau disebut sebagai perusahaan pers, atau cukup puas jadi tukang posting?
Di sinilah letak ketajaman mandat ini.
JMSI tidak datang untuk menjadi organisasi seremonial, tempat foto bersama dan bagi-bagi kartu anggota. Jika itu tujuannya, JMSI tidak perlu hadir. JMSI hadir karena pers siber Sulut sedang butuh rumah yang jujur.
Rumah untuk berdebat tentang standar. Rumah untuk melawan praktik copy-paste tanpa konfirmasi.
Rumah untuk advokasi ketika perusahaan pers lokal ditekan, diintimidasi, atau tidak dibayar oleh mitra. Rumah untuk memastikan kecepatan tidak membunuh akurasi.
Selama ini, perusahaan media di Sulut berjalan sendiri-sendiri. Saling curiga. Takut tersaingi. Padahal musuh sebenarnya bukan sesama media lokal, tapi algoritma raksasa, platform global, dan banjir hoaks yang menggerus kepercayaan publik.
Hendra Jacob paham betul, tanpa dukungan nyata dari bawah, JMSI Sulut hanya akan jadi papan nama.
Karena itu konsolidasi yang ia lakukan bukan dari atas ke bawah, tapi dari bawah ke atas. Dari warung kopi redaksi, dari ruang server yang sempit, dari keluh kesah wartawan yang honornya tertunda.
Ini ujian.
Ujian bagi Hendra untuk membuktikan apakah ia bisa merangkul, bukan memecah.
Ujian bagi seluruh pemilik media siber Sulut untuk membuktikan apakah mereka masih punya mimpi besar membangun ekosistem yang sehat, profesional, dan berdaya saing, atau hanya ingin bertahan hidup hari demi hari.
Mandat sudah di tangan. Jaringan mulai dirajut. Tahapan konkret sudah disusun.
Kini bola ada di tangan kita semua. Jika JMSI Sulut gagal kali ini, yang gagal bukan Hendra Jacob. Yang gagal adalah kita semua yang mengaku sebagai insan pers digital di tanah Nyiur Melambai ini.
Pers Sulut tidak butuh organisasi baru. Pers Sulut butuh keberanian untuk bersatu. Dan keberanian itu, hari ini, dimulai dari mandat ini. (Pem/Red/*)












