Oleh: Pemberian Manumbalang, Pemimpin Redaksi Lambeturah24.com | Dari Sulut Ke Nusantara|
Ada malam-malam ketika Indonesia terasa begitu sepi, tapi begitu gaduh di saat yang sama.
Malam ketika kabar beredar lebih cepat dari klarifikasi. Malam ketika inisial-inisial beterbangan di grup WhatsApp, lebih cepat dari siaran pers resmi.
Malam ketika ibu-ibu di dusun kecil di Talaud menidurkan anaknya, sambil berbisik pelan:
“Nak, tidur saja. Biar Tuhan yang jaga Indonesia malam ini.”
Dan pada malam seperti itulah, kita diuji. Apakah kita masih mampu menjadi bangsa yang sabar mencari kebenaran, atau bangsa yang terburu-buru menghakimi?
Kami tidak menulis editorial ini untuk menuduh siapa pun. Kami tidak tahu apakah isu penyadapan itu benar atau tidak. Kami tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.
Dan kami tidak berhak menghakimi nama-nama yang disebut-sebut dalam kabar yang belum terverifikasi keberadaannya.
Karena setiap orang, baik itu jenderal atau polisi berpangkat rendah, bahkan rakyat jelata sekalipun yang paling kita curigai, tetap berhak atas asas praduga tak bersalah, hingga pengadilan dan bukti berkata di atas kebenaran.
Itulah Indonesia yang kita cintai. Indonesia yang tidak menghukum orang hanya karena namanya disebut di sebuah pesan berantai.Tapi kami juga tidak bisa diam.
Karena bagi rakyat kecil persoalan ini bukan sekadar soal siapa menyadap siapa. Persoalan ini adalah soal kepercayaan.
Kepercayaan rakyat kepada institusinya. Kepercayaan rakyat kepada seragam yang mereka hormati. Kepercayaan rakyat kepada negara yang mereka cintai.
Ketika isu sebesar ini beredar, dan jawaban yang muncul hanya senyum dan kalimat “Nanti ada saatnya, ya”,
Maka rakyat akan bertanya-tanya dalam diamnya: Apakah negara ini masih punya ruang untuk terbuka kepada rakyatnya tanpa memila informasi?
Wahai para pemimpin negeri ini, dengarkanlah suara yang paling pelan ini. Rakyat Indonesia itu bukan rakyat yang manja. Rakyat kita adalah rakyat yang sabar luar biasa.
Mereka sabar antre bansos. Mereka sabar menghadapi jalan rusak. Mereka sabar melihat harga naik. Mereka sabar ketika anaknya harus sekolah dengan sepatu bolong.
Mereka sabar ketika malam-malam mereka dipenuhi kabar yang tidak mereka mengerti, tapi mereka tetap berusaha percaya bahwa negara ini masih baik-baik saja.
Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya meminta satu hal yang paling sederhana: Tolong jaga harapan kami.
Jika isu itu tidak benar, katakan dengan tegas: “Tidak benar.” Satu kalimat itu cukup untuk menenangkan jutaan hati yang resah.
Jika isu itu benar, katakan juga dengan berani: “Benar, dan ini yang akan kami lakukan.”
Satu kalimat itu cukup untuk membuat rakyat kembali percaya bahwa negara ini masih punya keberanian untuk membersihkan dirinya sendiri.
Yang paling melukai rakyat bukan kabar buruk. Yang paling melukai rakyat adalah ketidakpastian yang dibiarkan menggantung terlalu lama.
Karena dalam ketidakpastian, fitnah tumbuh subur. Dalam ketidakpastian, kebencian dipanen.
Dalam ketidakpastian, rakyat yang polos akan saling curiga satu sama lain, padahal mereka tidak tahu apa-apa.
Dan tahukah Bapak-Bapak yang kami hormati, siapa yang paling terluka dari semua kericuhan ini?,
Bukan mereka yang namanya disebut di berita. Bukan mereka yang berebut panggung.
Yang paling terluka adalah mereka yang tidak punya panggung sama sekali.
Ibu di Talaud yang malam ini tidak bisa tidur, karena ia takut anaknya tumbuh di negara yang tidak lagi bisa dipercaya.
Nelayan di Sangihe dan petani di pulau terluar lainnya yang malam ini tidur dengan rasa was-was, sambil bertanya dalam hati,
“Apakah rumah kami sedang dijaga, atau sedang dikhianati dari dalam?”
Petani yang menunggu hujan, sambil menunggu kabar, sambil menunggu kepastian yang tidak kunjung datang.
Mereka tidak butuh drama. Mereka tidak butuh panggung. Mereka tidak butuh siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam perebutan kekuasaan.
Mereka hanya butuh tidur nyenyak malam ini, tanpa bertanya:
“Negara kita sedang baik-baik saja atau tidak?”
Kami masih percaya, di balik semua isu ini, masih ada polisi-polisi baik yang patroli dengan perahu kecil di Sangihe, yang menjaga perbatasan dengan mata telanjang, yang gajinya pas-pasan tapi hatinya masih lurus.
Kami masih percaya, masih ada pejabat-pejabat baik yang bekerja dalam diam, yang tidak pernah masuk berita, tapi setiap harinya menjaga Indonesia tetap berdiri.
Jangan biarkan isu yang belum jelas ini meruntuhkan kehormatan mereka semua. Jangan biarkan satu kericuhan merusak ribuan pengabdian yang sunyi.
Maka kami menulis dengan hati, bukan dengan amarah:
Bukalah tirai ini. Terangkanlah dengan cahaya kebenaran. Jangan biarkan Indonesia menebak-nebak nasibnya sendiri dari potongan-potongan rumor.
Karena Indonesia ini bukan sekadar gedung, bukan sekadar jabatan, bukan sekadar bintang di pundak.Indonesia ini adalah ibu yang sedang menunggu kabar dari anak-anaknya.
Indonesia ini adalah petani yang menunggu hujan. Indonesia ini adalah nelayan di Sangihe yang malam ini melaut dengan rasa was-was.
Dan mereka semua berhak tahu: apakah rumah mereka sedang dijaga dengan cinta, atau sedang dibiarkan retak dalam diam?
Tulisan ini hanya bertujuan untuk merawat harapan.
Harapan bahwa kebenaran akan datang, meski pelan, tapi pasti. Harapan bahwa siapa pun yang bersalah akan diproses dengan adil, dan siapa pun yang tidak bersalah akan dipulihkan namanya dengan terhormat.
Harapan bahwa Indonesia tidak akan runtuh oleh isu, tapi justru akan semakin kuat karena berani jujur kepada rakyatnya sendiri.
Tuhan, jaga Indonesia kami. Jaga para pemimpin kami dari godaan kekuasaan. Jaga polisi kami dari godaan kegelapan.
Dan jaga rakyat kami dari godaan untuk saling membenci. Karena pada akhirnya, yang tersisa dari semua kegaduhan ini bukan siapa yang paling keras suaranya.
Yang tersisa adalah: apakah kita masih bisa saling percaya sebagai satu bangsa? Dan dari dusun kecil di Talaud, malam ini, doa itu kembali dititipkan. Semoga Indonesia tetap menjadi rumah, bukan menjadi panggung.
Kawal Dengan Fakta | Rawat Dengan Doa
LAMBETURAH24.COM – Dari Sulut Menuju Nusantara








