Oleh : Edwin Popal, Ketua Serikat Media Siber Indonesia, Provinsi Sulawesi Utara
Catatan kritis sang jurnalis menjadi pilihan pertama. Apalagi, jurnalis memang harus menulis, dan kritis. Setidaknya, setiap tulisan yang disampaikan harus benar-benar kritis mengupas masalah, untuk memberi ide, motivasi, dan sekali lagi, inspirasi.
Dalam banyak kesempatan menjadi pembicara, saya selalu mengatakan, untuk menjadi cerdas, tidak ada cara lain, selain menulis. Dengan rajin menulis, seseorang akan mempunyai kesempatan untuk menjadi lebih cerdas.
Meski tidak mendapat talenta untuk menulis, seseorang tetap bisa menulis, karena selain oleh karunia, menulis dapat dilatih. Dengan berlatih menulis, seseorang akan dapat menjadi penulis yang baik. Seorang penulis yang baik, pasti akan memiliki kecerdasan untuk dapat menjadi pendengar yang baik, penonton atau penyaksi yang cermat, dan pembicara yang hebat.
Karenanya, untuk menciptakan generasi cerdas, cukup dengan memberi kesempatan kepada para pelajar dan generasi muda kita untuk lebih banyak menulis. Bisa pula melalui lomba. Menulis esai, cerita, puisi, novel, menulis kreatif, dan lomba penulisan lainnya.
Mengapa pula harus menulis? Kecerdasan dimulai dengan mempekerjakan otak. Saya percaya, untuk dapat menulis, seseorang harus mampu “memeras” otaknya. Tidak seperti tiga talenta lainnya yang bahkan mungkin tidak memerlukan kerja keras otak, menulis sangat memerlukan kerja otak.
Banyak orang salah memahami, menulis adalah pekerjaan jurnalis. Orang menyebut jurnalis sama dengan wartawan. Padahal berbeda. Jurnalis tidak sama dengan wartawan. Jurnalis tidak selalu atau belum tentu wartawan, tetapi wartawan sudah dapat dipastikan adalah jurnalis. Meski kini, tidak semua wartawan bisa menulis. Tidak semua wartawan adalah jurnalis sejati. Apalagi jika medianya tidak jelas.
Jurnalis adalah orang yang bekerja melalui tulisan. Bisa Wartawan. Bisa Penulis. Bisa Konseptor. Bisa guru atau pengajar. Bisa pula para pemuka agama, atau orang-orang yang beradu argumen melalui tulisan. Boleh siapa saja. Yang penting dia bekerja melalui tulisan. Tidak ada batasan tentang Jurnalis. Apalagi, jurnalis di kenal dari tulisannya. Jurnalis adalah orang yang aktif melakukan praktik-praktik jurnalistik, atau menjurnal.
Nah, bedanya dengan wartawan. Ada banyak orang mengaku wartawan. Lucu. Jika dia seorang Wartawan, tak perlu mengaku-ngaku wartawan. Wartawan dikenal dari tulisannya. Style seorang wartawan adalah produk tulisannya. Namun, itulah hebatnya wartawan. Saking hebatnya, maka banyak orang terobsesi menjadi wartawan dan ingin menjadi wartawan, lalu mengaku-ngaku wartawan. Hehehe..
Yang membuat saya bangga menjadi Jurnalis, adalah Penghargaan public terhadap Nilai dan Karya Jurnalistik dalam memperjuangkan hak hak orang kecil ditengah hiruk pikuk dan kebablasan “Penguasa”. (Red)














