Penulis Berita : Pemberian Manumbalang
Bitung, Lambeturah—Kapolres Bitung AKBP. Arie Sulistyo Nugroho, S.I.K, M.H, mengajak seluruh elemen masyarakat yang ada di Kota Cakalang (Bitung-red) untuk saling merangkul dalam kedamaian demi merajut rasa persaudaraan.
Hal ini disampaikan Kapolres usai sukses menjadi mediator pasca tawuran antara dua komunita anak remaja Kombos Lorong THU dan anak-anak remaja Lorong Cantik Manis wilayah Pasar Tua, di Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa Kota Bitung, Jumat (18/09/2026).
“Mari kita kembali saling merangkul dan saling berpelukan untuk menjaga kota Bitung tetap aman dan damai, torang samua basudara, Saya berterimakasih kepada Camat Maesa Fatmawati Soleman, S.STP Saudara saya Ichal Mamuntu bersama Mario Mamuntu, Bang Hj Tago,Bang Hj Rio, Danramil, Kapolsek Maesa dan Tokoh Agama Tokoh Masyarakat Kota Bitung dan semua pihak yang sudah berkontribusi besar dalam membantu jalannya proses perdamaian bagi anak-anak kita”, Ujar Kapolres yang selalu tampil komunikatif tersebut.

Kapolres pun menyampaikan pesan moral tentang perdamaian dimana kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, Tawuran tidak pernah menghasilkan pemenang sejati. Apa yang dimulai dengan kemarahan hanya akan berakhir dengan luka fisik, penyesalan, kerugian materi, bahkan hilangnya nyawa. Perdamaian adalah satu-satunya jalan keluar yang menghasilkan solusi tanpa harus mengorbankan masa depan siapapun.
“Rasa solidaritas sering kali disalahartikan dalam tawuran. Membela teman atau kelompok secara buta untuk hal yang salah bukanlah sebuah kebanggaan. Solidaritas yang sejati seharusnya dibangun untuk saling melindungi dan membawa kemajuan, bukan untuk saling menghancurkan”. Tegas Kapolres .
Selanjutnya, Suami tercinta dari Ny. Hikmah Sulistyo Nugroho tersebut mengungkapkan pentingnya menahan diri dan berpikir panjang, menurutnya bahwa tawuran biasanya terjadi karena tersulut emosi sesaat atau provokasi. Peristiwa ini mengajarkan kita bahwa kemampuan menahan diri, mengendalikan amarah, dan memikirkan dampak jangka panjang dari setiap tindakan adalah tanda kedewasaan yang sebenarnya.
“Ketika tawuran terjadi, korban bukan hanya mereka yang berada di jalanan. Orang tua, keluarga, dan guru adalah pihak yang paling terluka dan menanggung malu serta kesedihan. Perdamaian adalah bentuk rasa hormat dan kasih sayang kita kepada orang-orang yang peduli pada kita karena catatan kriminal, luka cacat permanen, atau dikeluarkan dari sekolah adalah harga mahal yang harus dibayar akibat tawuran. Perdamaian memberikan kita ruang yang aman untuk fokus belajar, berkarya, dan mengejar impian tanpa dibayangi ketakutan”. Pungkas Kapolres Bitung AKBP. Arie Sulistyo Nugroho, S.I.K, M.H
Sementara itu, Ketua Barisan Solidaritas Muslim Indonesia Hj.Sapiin Palakua memberikan apresiasi atas upaya bapak Kapolres Bitung AKBP. Arie Sulistyo Nugroho, S.I.K, M.H yang lebih mengedepankan pendekatan humanis, dialogis dan kolaboratif kepada masyarakat dimana penanganan potensi konflik tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, melainkan pada pencegahan dan pemulihan hubungan sosial secara damai.
“Kami sangat salut dan bangga kepada Pak Kapolres Arie Sulistyo yang telah membangun sinergi dan komunikasi
yang erat dengan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan guna memperkuat kerukunan sosial, Ia telah menunjukkan dedikasinya dengan bertindak sebagai penengah (problem solver) dalam menyelesaikan perselisihan atau konflik antarwarga dengan mengutamakan musyawarah dan pendekatan kekeluargaan”. Pungkas Palakua. (Pem/Red)











