Dari Sujud Yang Berdoa ke Puncak Pengabdian, Jejak Emas Glady Kawatu, SH.,M.Si Sekda Kabupaten Minsel

Oleh: Pemberian Manumbalang, Pemimpin Redaksi Lambeturah24

MINSEL- Jika birokrasi adalah lautan yang penuh badai, maka Glady Nova Linda Kawatu adalah nahkoda yang berlayar bukan dengan kompas kekuasaan, melainkan dengan kompas iman.

Di sebuah ruang kerja asri di Kantor Bupati Minahasa Selatan, belum lama ini, bertepatan dengan ulang tahun pengabdiannya yang ke 33 tahun, perempuan tangguh itu menunduk. Bukan karena lelah, tapi karena syukur yang terlalu penuh untuk diucapkan dengan kata-kata.

“Siapakah aku ini Tuhan, sehingga layak menerima semua ini?”

Kalimat itu bukan retorika. Itu adalah doa. Doa dari seorang anak desa yang 33 tahun lalu memulai langkah sebagai ASN dengan sepatu yang mungkin masih basah oleh embun pagi, hingga hari ini berdiri di puncak — sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Selatan.

Bukan Sekadar Karier, Tapi Panggilan.

Orang mengenalnya sebagai pejabat. Tapi sedikit yang tahu, jalan yang ditempuhnya dijahit dengan air mata dan ketekunan.

Juara kelas sejak SD. Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Unsrat. Ketua OSIS. Ketua Senat. Semua itu bukan untuk dipamerkan, tapi untuk diasah.

Ia pernah menolak nyaman. Saat karpet merah dunia swasta terbentang sebagai Personal Manager Kawanua City Hotel, ia justru memilih jalan terjal dengan memilih menjadi abdi negara.

“Didikan orang tua untuk selalu memberi yang terbaik buat sesama, bangsa dan negara terlebih kepada Tuhan yang empunya Semesta” Desahnya pelan.

Tuhan membalas ketulusan itu. Beasiswa S2 Ilmu Politik UGM ia raih. Setiap diklat struktural, namanya selalu di urutan teratas sebagai peserta terbaik. Di usia yang masih sangat muda, ia sudah dipercaya menjadi Kepala Dinas Infokom Minahasa — pejabat eselon II termuda kala itu.

Dari lorong-lorong Biro Bina Sosial Pemprov Sulut, dari meja Kepala Biro Hukum, dari palu Sekretaris DPRD Sulut yang berwibawa, hingga menjadi Kabag Humas dan Kepala Badan PMPD di Minahasa — semua pernah ia singgahi. Tiga pemerintahan, satu hati: melayani.

Di Balik Jabatan, Ada Cinta yang Menjaga.

Jika siang ia adalah Sekda yang tegas, maka malam ia kembali menjadi seorang istri, seorang ibu, seorang oma.

Dengan mata berkaca ia menyebut nama-nama yang menjadi jangkarnya: Suami terkasih Pnt. Dr. Dani Pinasang, yang setia dalam diam. Anak-anaknya, Delano dan Kelly. Dan dua permata kecil, Hayden dan Hanzel, cucu-cucu yang membuat lelahnya hilang seketika.

Semua ini, katanya, ia persembahkan untuk mereka yang telah berpulang, Pnt. Ernst Paulus Kawatu dan Syamas Syntiche Eva Watung, serta Pnt. Albert Pinasang dan Pnt. Rofiel Komaling — orang tua yang mengajarinya bahwa integritas lebih mahal dari jabatan.

“Terima kasih atas kasih yang melampaui batas langit,” ucapnya.

Tiba di Dermaga dengan Selamat.

Kini, di sisa pengabdiannya, Glady tidak mengejar tepuk tangan. Ia hanya ingin satu hal :

Bekerja makin paripurna. Hidup berkenan kepada-Nya. Dan kelak, ketika waktu memanggil pulang, ia bisa tiba di dermaga kedamaian dengan selamat.

Karena bagi Glady Nova Linda Kawatu, menjadi ASN bukanlah profesi. Ia adalah ibadah.

“Tuhan Yesus baik. Segala hormat dan pujian hanya bagi Dia, Pemilik semesta”. Pungkasnya mengandung makna religius yang mendalam. (Pem/Red/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *