MANADO, Lambeturah24.com – Dermaga itu tempat keras. Besi, solar, suara kapal, dan jadwal yang tidak bisa menunggu. Di Pelabuhan Manado, Selasa 13 Oktober 2026 kemarin, aturannya kembali ditegakkan: dermaga harus steril.
Steril bukan karena benci pedagang.
Steril karena nyawa.
Satu langkah salah di area bongkar muat, satu lapak yang menghalangi jalur penumpang, bisa jadi petaka. KSOP tahu itu. Polsek Kawasan Pelabuhan tahu itu. Pelindo Manado tahu itu. Makanya mereka turun bersama.
Tapi yang bikin cerita kemarin beda, adalah caranya.
Tidak ada bentakan. Tidak ada dagangan yang dibanting.
Tim patroli itu mendekat, jongkok sejajar mata, lalu menjelaskan pelan-pelan: Bu, Pak, di sini tidak boleh jualan. Bukan karena dilarang cari makan, tapi karena di sini kapal besar berputar, forklift lewat, penumpang ramai. Kalau kesenggol, siapa yang tanggung?
Itu edukasi. Bukan eksekusi.
Dan di sela-sela penertiban, terjadi adegan yang jarang masuk berita resmi: petugas itu merogoh kantong, membeli air mineral, kacang, kue yang dijajakan pedagang asongan itu. Lalu bungkusan itu tidak dibawa pulang. Dibagikan ke buruh pelabuhan yang baru selesai angkat barang, ke petugas jaga yang kepanasan.
Aturan tetap ditegakkan. Tapi rasa kemanusiaan tak boleh dilupakan.
Bu Ella, GM Pelindo Manado, bilang dengan kalimat yang lugas:
“Kami memahami setiap orang punya perjuangan untuk hidup. Karena itu penertiban kami lakukan dengan pendekatan humanis. Tapi keselamatan pelayaran tidak bisa ditawar.”
Kalimat ituĀ terdengar jujurĀ karena merangkul.
Di negeri ini, kita sering melihat dua ekstrem: penertiban yang terlalu keras hingga melukai yang kecil, atau pembiaran yang terlalu lunak hingga membahayakan yang banyak. Kemarin di Pelabuhan Manado, kita melihat jalan ketiga.
Jalan ketiga itu bernama: tegas di aturan, lembut di cara.
Pedagang asongan itu bukan kriminal. Mereka ibu-ibu yang bawa keranjang dari jam 5 subuh, bapak-bapak yang berharap ada penumpang kapal beli dagangannya buat oleh-oleh anak di rumah. Mereka hanya salah tempat, bukan salah niat.
Dan petugas pelabuhan itu juga bukan algojo. Mereka juga pekerja yang digaji untuk menjaga agar tidak ada anak kecil terseret tali kapal, agar tidak ada penumpang jatuh karena dermaga semrawut.
Kemarin, di dermaga yang panas itu, keduanya bertemu bukan sebagai lawan. Tapi sebagai sesama manusia yang sama-sama sedang berjuang.
Pelindo Manado menunjukkan bahwa menjaga keselamatan bukan berarti mematikan kepedulian. Justru sebaliknya karena keselamatan yang sejati lahir dari kepedulian.
Dermaga steril, perut tidak perih, hati tetap terjaga. Itu baru namanya pelabuhan yang aman, tertib, nyaman, dan manusiawi. (Red/Pra/Editorial)














