EDITORIAL, Reinhard Mamalu,SH.MH, Ketika Toga Beselubung Hati Nurani

SULUT, LAMBETURAH24.COM– Di Bumi Nyiur Melambai, kita sudah terlalu lama menghafal pemandangan yang sama: toga yang gagah di ruang ber-AC, tapi gemetar ketika harus berdiri untuk orang kecil.

Kita sudah terlalu sering melihat hukum ditulis dengan tinta emas untuk mereka yang berkuasa, dan ditulis dengan air mata untuk mereka yang tak punya apa-apa.

Toga, di banyak tempat, telah berubah menjadi jas mahal. Dipakai untuk menakut-nakuti, bukan untuk melindungi. Dijual di lobi hotel, ditukar dengan proyek, dititip di laci kekuasaan.

Kemudian Tuhan, dengan caranya yang sunyi, menitipkan satu nama untuk mengingatkan kita: tidak semua toga lahir tanpa hati nurani. Namanya Reinhard Mamalu,SH.MH.

Reinhard bukan tipe pengacara yang mencintai mikrofon. Ia tidak membangun nama dari kebisingan. Ia tidak menagih tepuk tangan dari penderitaan orang lain.

Lihatlah Ia, ketika Ibu Wati Sumantha menangis di pelataran Polda Sulut, memeluk berkas tanahnya yang seperti hendak dirampas zaman.

Tidak ada rombongan yang Ia bawah,  Tidak ada kamera yang ia panggil. Hanya batik sederhana, kacamata yang sedikit berkabut, dan kalimat yang menenangkan, “Ibu jangan takut, selama hak Ibu benar, saya di sini.”

Lihatlah Ia, ketika sebuah keluarga di Girian Indah Bitung harus mempertahankan 15 hektar tanahnya yang sudah Inkracht, sudah sah, sudah diputuskan pengadilan, tapi masih hendak direbut dengan secarik surat palsu buatan oknum. Yang berdiri di depan mereka, lagi-lagi, adalah Reinhard.

Bagi banyak orang, itu hanya tanah. Bagi Reinhard, itu adalah kehormatan seorang manusia kecil untuk tetap punya tempat berpijak di negerinya sendiri.

Di sanalah kita belajar membedakan bahwa banyak orang pintar hukum, tapi tidak banyak orang yang mengerti luka.

Reinhard mengerti, karena ia percaya pada satu kalimat tua yang hampir punah: perjalanan hidup yang paling berarti adalah ketika seseorang berani mendedikasikan hidupnya untuk hidup orang lain.

“Jika ingin membela kebenaran, kamu tidak perlu mengingat apapun.”

“Saya tidak akan pernah takut siapapun yang menghalangi penegakan supremasi hukum di tanah air ini, termasuk di kampung halaman saya sendiri. Saya lawan!”

Dua kalimat itu, bukan yel-yel. Itu adalah janji pendekar dan ikrar seorang anak Porodisa kepada tanah kelahirannya.

Tak heran jika seorang Petrus Simon Tuange, yang pernah memimpin Talaud, dan seorang Pdt. Dr. Arnold Abbas, yang memimpin ribuan jemaat Germita, menyebut namanya dengan nada yang sama persis: rendah hati, bijak, bersahaja. Tidak suka menonjolkan diri.

Di Sulut, pujian seperti itu mahal. Karena kita tahu, orang yang benar-benar bekerja biasanya tidak sempat memuji dirinya sendiri.

Hari ini, ketika Lambe Turah 24 merekam excavator KOBELCO meraung di atas police line di Alason Ratatotok, ketika kami menulis dengan tangan gemetar karena marah melihat hukum diinjak-injak, kami teringat wajah itu. Wajah yang sama yang menolak amplop tebal dan memilih membela amplop tipis berisi sertifikat rakyat.

Untuk apa kami menulis editorial ini?

Bukan untuk mengangkat Reinhard setinggi langit. Ia tidak butuh itu.

Kami menulis ini untuk mengingatkan diri kami sendiri, dan untuk mengingatkan seluruh Sulawesi Utara:

Bahwa selama masih ada satu pengacara yang memilih pulang ke kampung halamannya bukan untuk mencari proyek, tapi untuk menjaga agar keadilan tidak terusir dari kampung itu — maka harapan itu belum mati.

Bahwa hukum tanpa kemanusiaan hanyalah pasal-pasal mati. Dan kemanusiaan tanpa hukum hanyalah air mata yang tak pernah kering.

Terima kasih, Bung Reinhard. Terima kasih telah menjaga agar di tanah Nyiur Melambai ini, orang kecil masih bisa percaya, bahwa keadilan masih punya wajah yang ramah, masih punya tangan yang mau menggandeng, bukan hanya tangan yang menunjuk-nunjuk.

Tetaplah berjalan dengan kesederhanaanmu. Tetaplah menjadi potret hidup yang patut diteladani. Bumi ini tidak akan lupa siapa yang membelanya dengan hati.

Hormat kami, Redaksi Lambe Turah 24.
Untuk Reinhard Mamalu, S.H., M.H. — “Pendekar Hukum Porodisa yang Tak Lupa Hati Nurani”. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *