Oleh: Pemberian Manumbalang, Pemimpin Redaksi Lambeturah24.com
Ada tempat di peta Indonesia yang sering kita lewati begitu saja.Namanya Talaud. Kepulauan kecil di ujung utara Sulawesi.
Jaraknya jauh dari Jakarta.
Jaraknya jauh dari hiruk-pikuk kota. Tapi jaraknya sangat dekat dengan batas negara. Sangat dekat dengan Filipina.
Sangat dekat dengan garis yang menentukan: Di sinilah Indonesia dimulai, dan di sinilah Indonesia harus dijaga.
Di sanalah Polres Kepulauan Talaud berdiri.Mereka bukan polisi yang setiap hari disorot kamera nasional. Mereka bukan polisi yang pengumumannya menjadi trending topic.
Mereka adalah polisi yang bekerja dalam sunyi, di pulau-pulau yang diterpa angin laut, di jalan-jalan yang kadang masih sepi, di pasar-pasar yang riuh dengan suara ibu-ibu penjual ikan.
Dan justru di sanalah, ketulusan paling mudah terlihat.
MEREKA TIDAK HANYA MENJAGA, MEREKA MENDENGAR
Beberapa hari lalu, di Pasar Lama Melonguane, Kapolres Kepulauan Talaud, AKBP Dwi Yatmoko, S.TP., S.I.K., M.I.K., tidak datang dengan barikade. Tidak datang dengan arogansi kekuasaan.
Beliau datang dengan duduk bersama.
Bersama Kasat Intelkam Iptu Yerry Carlos, Kasat Lantas Iptu Christian Mewengkang, Kapolsek Melonguane Ipda Jemi Tipawael, dan jajaran lainnya, mereka menggelar Ruang Publik Aman — Kumpul Bersama Masyarakat.
Bukan di gedung ber-AC. Tapi di pasar. Di tempat rakyat berkeringat mencari rezeki.
Di sana, polisi tidak bertanya dengan nada interogasi. Polisi bertanya dengan nada saudara:
“Apa yang membuat Bapak tidak tenang akhir-akhir ini?”
“Apa yang membuat Ibu khawatir saat anaknya berangkat sekolah?”
“Apa yang perlu kami perbaiki?”
Dan warga menjawab, ratusan warga datang, bukan karena takut, tapi karena merasa dihargai.
Inilah yang hilang di banyak kota besar :
Polisi yang mau mendengar sebelum memerintah. Polisi yang mau duduk sebelum berdiri di atas mimbar.
Di Talaud, polisi itu masih ada.
MEREKA TIDAK HANYA MENGAMANKAN, MEREKA MENGOBATI
Yang membuat hati kita bergetar adalah ini:
Di acara yang sama, Sidokkes Polres Kepulauan Talaud di bawah Ps. Kasidokkes Bripka Adolof Rumewo, menghadirkan Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk warga.
Ada pemeriksaan tubuh menyeluruh. Ada pengukuran tekanan darah. Ada pemeriksaan gigi. Ada konsultasi medis. Ada obat dan vitamin yang dibagikan cuma-cuma.
Coba bayangkan, Seorang ibu di Melonguane yang selama ini menahan sakit gigi karena takut biaya berobat, hari itu bisa diperiksa gratis oleh tim medis Polres.
Seorang bapak tua yang selama ini tidak pernah tahu tekanan darahnya sudah tinggi, hari itu bisa tahu, bisa dapat obat, bisa pulang dengan tenang.
Seorang anak kecil yang selama ini takut melihat polisi, hari itu melihat polisi memberinya vitamin sambil tersenyum.
Apakah itu tugas polisi? Secara formal, mungkin bukan. Tapi secara manusiawi, itulah polisi yang sesungguhnya.
Polisi yang mengerti bahwa rasa aman bukan hanya soal tidak ada pencuri. Rasa aman juga soal ibu yang tidak khawatir anaknya sakit tanpa obat.
Rasa aman juga soal bapak yang bisa tidur nyenyak karena tahu tekanan darahnya terkontrol.
Polres Talaud mengerti itu. Mereka tidak hanya mengawal kamtibmas. Mereka mengawal kehidupan.
DI BERANDA NKRI, KESETIAAN ITU TIDAK MURAH
Kita yang di kota sering mengeluh:
Sinyal lemot, jalan macet, listrik mati sebentar saja sudah marah-marah. Tapi Di Talaud kondisi tersebut sudah menjadi rutinitas
Coba pikirkan polisi-polisi di Talaud. Mereka bertugas jauh dari keluarga besar mereka. Jauh dari kampung halaman mereka.
Bertugas di pulau perbatasan, di mana setiap malam mereka adalah garis pertama yang memisahkan Indonesia dari ancaman.
Jika ada penyelundupan, mereka yang pertama menghadang.
Jika ada perbatasan yang diganggu, mereka yang pertama berdiri.
Jika ada warga yang butuh pertolongan di tengah laut, mereka yang pertama berlayar.
Mereka tidak punya panggung besar.
Mereka tidak punya sorotan besar. Tapi mereka punya satu hal yang tidak bisa dibeli dengan pangkat dan jabatan yaitu Kesetiaan.
Kesetiaan untuk tetap menjaga, meski jauh.
Kesetiaan untuk tetap melayani, meski sunyi.
Kesetiaan untuk tetap humanis, meski tugas mereka berat.
Kapolres AKBP Dwi Yatmoko berkata:
“Kehadiran Polri di ruang-ruang publik bukan sekadar menjaga keamanan, melainkan membangun kemitraan yang erat dengan masyarakat demi menciptakan rasa aman yang hakiki.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di Talaud, kalimat itu dibuktikan dengan duduk di pasar, dengan mendengarkan keluhan, dengan membagikan obat gratis. Bukan sekadar diucapkan. Tapi dilakukan.
UNTUK PUBLIK DI TALAUD, JANGAN BIARKAN MEREKA BERJUANG SENDIRIAN
Dan untuk kita, publik yang membaca tulisan ini dari jauh.!, Jangan biarkan polisi-polisi di beranda NKRI berjuang sendirian.
Jangan hanya ingat polisi saat ada masalah. Ingatlah polisi saat mereka sedang berusaha mencegah masalah itu datang.
Jangan hanya viralkan polisi saat mereka salah. Viralkan juga polisi saat mereka benar, saat mereka tulus, saat mereka mengobati warga di pasar, saat mereka duduk mendengar keluhan nenek-nenek penjual sayur.
Karena jika kita hanya menghujat polisi yang buruk, tapi tidak pernah mengapresiasi polisi yang baik, maka suatu saat tidak akan ada lagi polisi baik yang mau berjuang dengan tulus.
Talaud mengajarkan kita satu hal yang sangat berarti dan sangat dalam:
Negara yang besar itu tidak dijaga dari ibu kota saja. Negara yang besar itu dijaga dari pulau-pulau kecil, oleh orang-orang kecil yang hatinya besar.
Dan hari ini, di Pasar Lama Melonguane, hati yang besar itu terlihat.
Mereka bukan malaikat. Mereka manusia biasa yang memakai seragam. Mereka juga lelah. Mereka juga rindu keluarga. Mereka juga punya masalah pribadi.
Tapi mereka memilih untuk tetap hadir. Tetap mendengar. Tetap mengobati. Tetap menjaga.
Dari dusun kecil di Talaud, doa untuk Indonesia dititipkan. Dan hari ini, doa itu kami titipkan untuk mereka yang menjaga beranda NKRI:
Tuhan, jaga polisi-polisi di Talaud sebagaimana mereka menjaga kami.
Beri mereka kesehatan. Beri mereka kekuatan. Beri mereka rezeki yang cukup. Dan beri mereka hati yang tidak pernah lelah untuk mencintai negeri ini, meski negeri ini kadang lupa mencintai mereka.
Karena selama masih ada polisi yang mau duduk di pasar untuk mendengar, dan mau membagikan obat gratis untuk mengobati, selama itu pula Indonesia masih punya harapan.
Talaud bukan ujung yang terlupakan. Talaud adalah beranda yang dijaga dengan cinta.
Kawal Dengan Fakta | Rawat Dengan Doa|
LAMBETURAH24.COM – Dari Sulut Menuju Nusantara











