TALAUD, Lambeturah24.com– Ada jala yang ditebar untuk menangkap ikan.
Ada jala yang ditebar untuk menangkap air mata.
Pada Kamis, 5 November 2026, di Pantai CFB Melonguane — tempat pasirnya masih basah oleh jejak perahu yang pulang subuh — Polres Kepulauan Talaud menebar jala yang kedua.
Namanya Jala Aspirasi, lewat program Polisi Peduli Pengangguran (Poliran).
Jala itu tidak ditebar di gedung ber-AC yang dingin dan jauh dari rakyat.
Jala itu ditebar di pasir yang panas, di tempat ibu-ibu menunggu suaminya pulang dengan mata yang setengah berharap, setengah takut.
Di tempat anak-anak kecil bermain sambil bertanya, “Bapak kapan pulang? Bapak dapat ikan banyak kah hari ini?”
Di sana, Kapolres Kepulauan Talaud, *AKBP Dwi Yatmoko*, bersama jajaran dan personel Polsek Melonguane, tidak datang untuk ceramah.
Beliau datang untuk duduk.
Untuk menundukkan kepala, dan membuka telinga.
Untuk menjadi manusia, sebelum menjadi pejabat.
LAUT TIDAK PERNAH BOHONG, NELAYAN PUN TIDAK
Dan nelayan pun bicara. Bukan dengan bahasa rapat. Tapi dengan bahasa luka yang sudah lama dipendam.
Mereka bicara soal perahu yang sudah tua, tapi harus tetap dipaksa melawan ombak karena tidak ada yang baru.
Mereka bicara soal alat tangkap yang masih sederhana, sementara ikan semakin jauh, semakin dalam, semakin sulit dijangkau.
Mereka bicara soal BBM, darah bagi perahu mereka, yang kadang sulit didapat, kadang mahal, kadang membuat mereka harus memilih: melaut atau tidak makan hari ini.
Mereka bicara soal anak-anak mereka. Yang ingin sekolah tinggi, tapi bapaknya hanya nelayan. Yang ingin tetap tinggal di Talaud, tapi lapangan kerja di pesisir begitu sempit.
Coba bayangkan,
Seorang bapak nelayan yang tangannya kasar karena tali jangkar, yang wajahnya hitam karena matahari laut, hari itu bisa menatap mata Kapolres dan berkata, “Pak, tolong dengar kami.”
Dan Kapolres mendengar. Bukan dengan telinga saja. Tapi dengan hati.
Seorang pemuda pencari kerja yang selama ini merasa tidak dilihat negara, hari itu merasa dilihat. Merasa didengar. Merasa dianggap ada.
Itulah kehadiran yang hakiki. Bukan sirene yang lewat kencang. Tapi duduk yang lama. Tatapan mata yang tulus. Catatan yang ditulis dengan hati, bukan sekadar dengan pena.
“KAMI DI SINI BUKAN SEKADAR MENDENGARKAN”
Lalu, di tengah debur ombak Pantai CFB, AKBP Dwi Yatmoko mengucapkan kalimat yang seharusnya kita pahat di dinding hati kita semua:
“Kehadiran kami di sini bukan sekadar untuk mendengarkan, tetapi untuk memastikan bahwa setiap aspirasi dan kendala yang dihadapi oleh saudara-saudara kita para nelayan mendapat perhatian serius serta solusi yang tepat.”
Berhentilah sejenak di kata itu: Saudara-saudara kita.
Bukan “warga”. Bukan “masyarakat”. Bukan “objek pembinaan”.
Tapi saudara.
Di kata “saudara” itu, ada pelukan. Ada pengakuan bahwa polisi dan nelayan itu satu darah, satu tanah, satu laut. Satu keluarga besar di Bumi Porodisa yang sama-sama menjaga beranda NKRI.
Polisi menjaga daratnya agar ibu-ibu bisa tidur tenang.
Nelayan menjaga lautnya agar Indonesia tetap punya ikan, tetap punya kehidupan.
Dan ketika saudara mengeluh karena perahunya bocor, tugas saudara yang lain bukan menghakimi, tapi menambal bersama.
Ketika saudara mengeluh karena BBM-nya sulit, tugas saudara yang lain bukan mencibir, tapi menjembatani bersama.
Ketika saudara mengeluh karena anaknya belum dapat kerja, tugas saudara yang lain bukan meninggalkan, tapi mendampingi bersama.
Itulah janji yang ditebar di Pantai CFB hari itu. Janji yang tidak ditulis di atas kertas saja, tapi ditulis di atas pasir yang akan selalu diingat ombak.
POLISI YANG MENJEMBATANI, BUKAN SEKADAR MENCATAT
Polres Talaud tidak ingin menjadi pencatat keluhan yang setelah acara selesai, kertasnya dilipat, disimpan, lalu dilupakan.
Melalui kolaborasi lintas sektoral ini, Polres Talaud ingin menjadi jembatan.
Jembatan antara suara nelayan di Pantai CFB dengan pemerintah daerah.
Jembatan antara keluhan pencari kerja dengan dinas yang bisa memberi solusi.
Jembatan antara air mata rakyat pesisir dengan tangan-tangan yang punya kewenangan untuk menghapus air mata itu.
Karena nelayan tidak butuh janji manis yang menguap seperti embun pagi.
Nelayan butuh solar untuk perahunya besok subuh.
Nelayan butuh alat tangkap yang layak agar tidak pulang dengan tangan kosong.
Nelayan butuh kepastian bahwa saat mereka berlayar di tengah badai, ada yang menjaga istri dan anak mereka di darat.
Dan di saat yang sama, Polres Talaud menitipkan satu nomor yang bisa menyelamatkan nyawa:
Call Center 110, siaga 24 jam.
Jika perahu hilang di tengah laut, hubungi 110.
Jika ada pencurian di pesisir, hubungi 110.
Jika ada ibu yang melahirkan di tengah malam dan butuh pertolongan, hubungi 110.
Itu bukan sekadar nomor. Itu adalah pelukan negara yang tidak pernah tidur. Itu adalah janji bahwa di pulau perbatasan ini, rakyat tidak pernah sendirian, bahkan di tengah malam yang paling gelap sekalipun.
UNTUK PUBLIK: JANGAN BIARKAN SUARA NELAYAN HILANG DITELAN OMBAK
Dan untuk kita, yang membaca tulisan ini dari kota, dari balik layar handphone yang terang…
Tolong, jangan biarkan suara nelayan Melonguane hilang ditelan ombak.
Mereka adalah penjaga laut kita yang paling setia, yang paling sunyi, yang paling jarang kita ingat.
Mereka yang setiap malam mempertaruhkan nyawa di tengah ombak, sementara kita tidur nyenyak dan besok pagi tinggal makan ikan goreng yang sudah tersaji di meja.
Mereka yang setiap subuh mendorong perahu dengan tangan yang gemetar karena dingin, sementara kita masih berselimut.
Jika hari ini mereka mengeluh soal BBM, dengarkanlah dengan hati, bukan dengan cibiran.
Jika hari ini mereka mengeluh soal alat tangkap, perhatikanlah, jangan anggap itu keluhan kecil.
Jika hari ini mereka mengeluh soal sulitnya mencari kerja di pesisir, bantulah mereka, jangan suruh mereka merantau dan meninggalkan tanah kelahirannya.
Dan jangan hanya ingat polisi saat ada masalah.
Ingatlah polisi saat mereka duduk di pasir Pantai CFB, dengan seragam yang basah oleh keringat, mendengarkan nelayan dengan mata yang berkaca-kaca.
Karena di Talaud, polisi tidak hanya menjaga keamanan.
Polisi sedang menjaga harapan.
Harapan seorang nelayan tua yang ingin anaknya tidak lagi melaut dengan perahu bocor, tapi dengan perahu yang layak dan aman.
Harapan seorang pemuda yang ingin bekerja dengan layak di tanah kelahirannya sendiri, tanpa harus meninggalkan ibunya yang sudah tua di Melonguane.
Harapan seorang ibu yang setiap malam berdoa di depan jendela, _”Tuhan, pulangkan suamiku dengan selamat. Pulangkan dia dengan ikan yang cukup untuk anak-anak kami makan besok.”
Harapan-harapan itulah yang dijala oleh Polres Talaud di Pantai CFB.
Dan hari ini, mari kita tutup tulisan ini dengan doa yang paling tulus dari dusun kecil di Talaud:
Tuhan, jaga nelayan-nelayan kami di laut, sebagaimana Engkau menjaga polisi-polisi kami di darat. Tenangkan ombaknya. Cukupkan tangkapannya.
Mudahkan BBM-nya. Lapangkan rezekinya. Dan beri kami pemimpin yang tidak hanya mau mendengar, tapi juga mau menjembatani.
Dan Tuhan, jika suatu hari nanti kami lupa pada nelayan kami, ingatkan kami bahwa ikan yang kami makan hari ini, adalah hasil dari nyawa yang dipertaruhkan semalam di tengah laut.
Karena selama masih ada polisi yang mau duduk di pasir untuk mendengar nelayan, dan selama masih ada nelayan yang mau bicara jujur tentang lautnya, selama itu pula Indonesia masih punya harapan dari ujung utara.
Pantai CFB bukan sekadar tempat wisata. Hari itu, Pantai CFB menjadi tempat di mana negara dan rakyatnya saling memeluk. Di mana jala tidak hanya menangkap ikan, tapi menangkap hati.
Kawal Dengan Fakta | Rawat Dengan Doa
LAMBETURAH24.COM – Dari Sulut Menuju Nusantara











