Editorial, Pesan Kapolri Baru Ditabrak, Pria Mabuk Ngaku Adik Kapolda Ngamuk di Megamas

Oleh: Pemberian Manumbalang (Pemimpin Redaksi Lambeturah24.com)

SULUT, LAMBETURAH24.COM– Ada dua jenis manusia yang seharusnya paling steril dari arogansi. Pertama adalah Dokter karena tangannya adalah tangan penyelamat nyawa. Kedua adalah Polisi. Karena seragamnya adalah janji pengayom.

Tapi di Megamas, Manado, Sabtu dini hari pukul 02.30 WITA, keduanya diludahi sekaligus oleh satu mulut yang mabuk.

Seorang pria berkaus Siloam, mengendarai mobil listrik mewah Denza, menabrak traffic cone. Lalu menabrak rambu. Lalu menabrak papan petunjuk. Lalu… mencoba menabrak manusia.

Sekuriti bernama Risky hanya menjalankan tugas. Ia menegur dengan sopan. “Tolong turunkan kaca, Pak.”Jawaban yang ia dapat bukan maaf. Tapi gertakan maut.

Mobil dimundurkan. Gas diinjak. Risky lari. Mobil mengejar. Dari Cafe Mistik sampai Hotel Wish Prime, seorang penjaga malam diburu seperti binatang di kawasan yang katanya paling elit di Manado.

Dan saat terkepung, saat bau alkohol menyengat dari mulutnya, ia mengeluarkan mantra paling sakti di republik ini “Saya ini adik Kapolda. Silakan lapor!”Selesai.

Di kalimat itu, semua logika runtuh. Di kalimat itu, kita tahu mengapa negeri ini susah sembuh. Seorang yang mengaku dokter, yang seharusnya hapal sumpah Hippocrates untuk tidak membahayakan nyawa, justru menggunakan mobilnya sebagai senjata untuk membunuh.

Seorang yang mengaku adik Kapolda, yang seharusnya paham arti Tribrata, justru menjadikan nama Kapolda sebagai tameng untuk mabuk, menabrak, dan mengancam.

Ini bukan lagi soal tabrak lari. Ini soal mentalitas feodal yang masih hidup di dalam mobil listrik.

Mentang-mentang adik pejabat, merasa kebal.
Mentang-mentang dokter, merasa nyawa orang lain murah.
Mentang-mentang kaya, merasa kawasan Megamas adalah sirkuit pribadinya.

Padahal Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto baru saja berpesan dengan air mata ketulusan: Jangan arogan. Jangan sakiti hati masyarakat. Pesan itu baru beberapa hari lalu. Tapi di Manado, pesan itu sudah ditabrak duluan, bersamaan dengan traffic cone dan papan petunjuk lalu lintas.

Pertanyaan paling mendasarnya adalah Benarkah dia adik Kapolda? Jika benar, maka Kapolda Sulut harus malu memiliki adik seperti ini dan harus menjadi orang pertama yang memenjarakan adiknya sendiri. Itulah contoh Polri humanis.

Jika tidak benar, maka ini lebih hina lagi. Mencatut nama Kapolda untuk menakut-nakuti rakyat kecil adalah penghinaan terhadap institusi Polri. Pasal 207 KUHP menanti.

Dan untuk Siloam Hospital. Kami menunggu. Apakah benar pria mabuk ini dokter kalian? Jika benar, apakah kalian mengajarkan dokter kalian minum miras sampai mabuk lalu coba membunuh sekuriti? Bukankah dokter seharusnya menyembuhkan, bukan membunuh?

Risky, sekuriti itu, mungkin gajinya hanya sepertiga harga satu ban mobil Denza itu. Tapi nyawanya sama berharganya. Ia punya ayah, ia punya keluarga yang menunggu di rumah.

Tadi malam, ia hampir tidak pulang. Hanya karena seorang pria mabuk yang merasa dirinya adalah hukum. Manado tidak butuh dokter yang mabuk. Manado tidak butuh adik Kapolda yang arogan. Manado butuh keadilan.

Polda Sulut bersama  Polresta Manado harus mengusut kasus ini dengan meringkus terduga pelaku, CCTV Megamas ada, Saksi ada. Bau alkohol masih ada di ingatan korban. Jangan biarkan kasus ini selesai hanya dengan kata “maaf” dari kakaknya.

Karena jika kasus ini damai dengan maaf, maka besok akan ada Risky-Risky lain yang ditabrak oleh “adik-adik pejabat” lainnya. Pecat jika dia dokter. Proses hukum jika dia adik pejabat. Penjarakan jika dia mencoba membunuh.Itu baru namanya Polri yang tidak menyakiti hati masyarakat.(Pem/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *